Beranda blog Halaman 18

Inilah Pesan Gus Nuril Untuk Kaum Atas di Indonesia.

0

 

Jakarta, PatriotSatu. Com- Untuk Orang kaya, Ketua Patriot Garuda Nusantara (PGN), Nuril Arifin atau Gus Nuril menghimbau, agar berhati hati lah kita semua, jika sampai kaum khilafah yang jadi penguasa di Republik ini, maka sia-sia saja memiliki rumah mewah dan gedung mewah di negara ini.

“Sudah terbukti penganut khilafah, sangatlah jauh berbeda dengan Pancasila. jika khilafah berjaya, tidak akan ada lagi artinya semua harta duniawi yang di miliki, ” imbuhnya melalui pesan singkat, Kamis (2/8/18) malam.

Gus Nuril memaparkan, bahwa,  Kita bisa membayangkan bagaimana kekejaman ISIS. Istri anda yang cantik pun, tidak akan jadi milik anda lagi, uang milik anda pun tidak akan bisa anda pakai lagi.

“Bahkan mereka tega menyembelih orang yang anda sayang di depan mata anda.
Sadarlah wahai para penduduk Indonesia, jika sampai Penguasa di Republik ini bukan yang Nasionalis, bisa dipastikan Tamat lah riwayat kita” papar nya.

Lanjutnya, Contoh kecil saja  jika Jokowi sampai ditumbangkan lawan di pilpres 2019, maka menurut info nya, Maluku akan menjadi daerah pertama yang akan minta merdeka, berikutnya giliran Papua lalu Bali dan seterus dan seterusnya.

“Perlu juga kita ketahui bahwa syarat untuk menjadi suatu negara bukanlah berdasarkan banyaknya penduduk atau luasnya wilayah nya. Maka Sumatra Utara pun bisa pecah 5. Hati hati dalam soal kebangsaan ini kita tidak boleh main main.
Sangat mahal harganya kemerdekaan republik ini, ” pungkas Gus Nuril

Dirinya menegaskan, jangan coba-coba memberikan jalan untuk intoleransi, Sekali Pancasila Tetap Pancasila, NKRI tidak ada yang boleh mengutak atiknya.

“Oleh sebab itu saya akan mengajak seluruh komponen bangsa Mari kita lawan Intoleransi. Lenyapkan semua tokoh tokohnya. Kita harus jaga keutuhan NKRI ini dan jika ada yang teriak NKRI BERSYARIAH, sangat jelas itulah musuh kita dan harus dibasmi,” tegas Gus Nuril.  (fer)

Facebook Comments

Gus Nuril : Waspadai Kaum Islam Radikal, Jika Tidak Ingin Seperti Suriah

0

Gus Nuril : Waspadai Kaum Islam Radikal, Jika Tidak Ingin Seperti Suriah

Jakarta, Patriotsatu. Com- Orang Islam yang awam banyak yang tidak senang jika orang islam itu dianggap teroris, orang islam itu dianggap radikal, padahal kenyataannya, Imam Samudra, Amrozi, Santoso, Abu Jandal, Aman Abdurrahman, Napiter Mako Brimob, Mereka jelas teroris, jelas radikal, mereka menghalalkan membunuh orang kafir bahkan saudara nya seagama selama dianggap menentang ideologi mereka.

Ketua Patriot Garuda Nusantara (PGN), Nuril Arifin atau Gus Nuril, mengatakan, mereka jelas islam tapi tidak semua islam seperti itu, bahkan mayoritas umat islam tidak menganut ajaran kekerasan seperti para teroris ini, mereka hanya kelompok kecil dari sebagian umat islam yang cinta damai yang menyakini Islam Rahmatan lil alamin.

“Saya, Gus Nuril sebagaimana Gus Dur selalu membela Islam dengan cara khas wali songo dan ulama-ulama terdahulu, membela ajaran islam yang damai dari pembajakan islam model kaum radikal ini. Gus Dur pernah di cap lebih dekat dengan orang kafir, tapi memusuhi saudaranya sendiri,” ujarnya melalui whatsapp, Rabu (1/8/18).

Dirinya menambahkan, begitupun dengan Gus Nuril, Pak KH.Said Aqil Siradj, Prof. Quraish Shihab, Buya Syafii Maarif dan ulama-ulama lain yang berhaluan moderat, dicaci maki golongan radikal.

” Saya, paling menentang keberadaan ormas radikal termasuk HTI yang di bubarkan pemerintah baru-baru ini, saya juga mengkritik keras Pemerintah yang era sebelumnya seperti membiarkan Organisasi ini menjadi makin membesar,” tegas Gus Nuril.

Lanjutnya, dapat dilihat dari kelompok mana yang menghina Kyai-Kyai NU, tidak itu Gus Nuril tidak itu KH.Said Aqil Siradj, mereka adalah kelompok yang sama, yang menjelekan amalan NU dan menghina Banser sebagai Hewan Penjaga Gereja, serta mengolok Islam Nusantara.

” Islam model mereka inilah yang dilawan Gus Nuril, Karena keberadaannya makin lama akan merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para ulama dan santri-santri,” imbuh Gus Nuril.

Menurut Gus Nuril, Islam model mereka yang banyak menganut paham Wahabi, dan sekarang menulari masyarakat perkotaan dan mulai menyebar ke pelosok desa. Jika wabah idelogi khilafah didiamkan, bisa ambruk negara ini, dan jika wabah radikal didiamkan akan terjadi perang saudara seperti yang dialami di timur tengah sana.

” Saya sudah mengingatkan kepada masyarakat banyak, cepat atau lambat kita akan berbenturan dengan mereka (Islam Radikal-red), bagi kita yang mayoritas islam berpaham moderat harus waspada gerakan Islam Radikal yang menyusup ke pengajian-pengajian, bahkan Banser pernah membubarkan pengajian HTI yang nyata-nyata menyusupi agenda Khilafah, apa kita mau Negeri kita kaya Suriah?,” Pungkas Gus Nuril. (Fer)

Facebook Comments

Mapan RI Bogor, Siap Adakan Penyuluhan Guna Sadar Akan Bahaya Narkoba

0

Kabupaten Bogor, PatriotSatu.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bogor menggelar Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tingkat Kabupaten Bogor, bertempat di halaman kantor BNN Kabupaten Bogor, pada Selasa (31/7/18). Hadir dalam kesempatan tersebut Staf Ahli Bidang sosial dan Ekonomi Pemerintah Kabupaten Bogor, Ridwan Syamsudin yang secara langsung membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya Ridwan mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah bersinergi dengan BNN Kabupaten Bogor, jajaran kepolisian dan berbagai pihak lainnya yang berkompeten dalam melaksanakan berbagai langkah serius dan tegas untuk menyelamatkan anak bangsa dari penyalahgunaan Narkoba serta menanggulangi berbagai permasalahan Narkoba secara nyata.

“Semoga upaya-upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam memerangi Narkoba tersebut berhasil menguatkan ketahanan masyarakat dari gempuran pengaruh Narkoba dari semua lini serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mencegah diri, keluarga dan lingkungan sosialnya dari penyalahgunaan dan peredaran Narkoba,” katanya.

Ia juga menambahkan Pemerintah Kabupaten Bogor memiliki komitmen yang kuat untuk memerangi penyalahgunaan dan peredaraan Narkoba, baik melalui program pencegahan dan tindakan pemberantasan, maupun melalui upaya rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap BNN Kabupaten Bogor yang selama ini telah berupaya melaksanakan berbagai kegiatan sosialisasi pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, tes urine bagi aparatur Pemerintah dan warga masyarakat, serta melaksanakan operasi penangkapan pelaku penyalgunaan dan peredaran Narkoba berkerjasama dengan aparat penegak hukum.

“Mengingat penyalahgunaan Narkoba bukan semata-mata merupakan tindangan penyimpangan hukum, akan tetapi berkaitan dengan aspek kesehatan moral dan spiritual, uapaya lainnya yang sangat penting adalah program rehabilitasi terhadap penyalahguna narkoba, baik rehabilitasi rawat jalan maupun rehabilitasi rawat inap,” ungkapnya.

Ridwan juga memaparkan sinergi yang telah terbangun antara BNNK dengan Dinas kesehatan melalui pemberdayaan komponen masyarakat institusi penerima wajib lapor, yaitu klinik pratama BNNK Bogor, puskesmas Citeureup dan Cibinong serta non institusi penerima wajib lapor yang berkerjasama dengan BNN Kabupaten bogor Bogor, kiranya memberi harapan akan pemulihan para residen atau pasien penyalahguna Narkoba hingga dapat beraktivitas kembali di tengah masyarakat secara wajar sebagai sumberdaya yang sehat dan berkualitas.

Sementara itu, Kepala BNNK Bogor Nugraha Setya Budi mengatakan peringatan HANI merupakan bentuk keprihatinan bangsa-bangsa terhadap permasalahan narkoba yang kini mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara serta daklam rangka menggelorakan semangat menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba di Kabupaten Bogor.

Adapun tujuannya menurut Budi yakni meningkatkan komitmen dan kepedulian seluruh komponen masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia sehat tanpa Narkoba juga sebagai momentum untuk menongkatkan kampanye P4GN diseluruh pelosok Kabupaten Bogor dalam upaya mewujudkan Indonesia Negeri Bebas Narkoba.

“Menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba melalui kesenian dan lomba cipta lagu dan diharapkan pesan-pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat luas sampai ke tingkat akar rumput sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba dan merubah perilaku masyarakat untuk secara tegas menolak segala bentuk penyalahgunaan Narkoba,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Ketua Masyarakat Penggiat Anti Narkoba (MAPAN) RI kota Bogor Oscar Dany Susanto, menerangkan, untuk mengatasi bahaya narkoba yang sudah sangat kronis dan kita pahami dulu bahwa narkoba tetap ada dan diproduksi, karena ada yang membeli serta menggunakannya.

“cara pemeberantasan yang paling efektif dan Efisien, tentu saja tidak hanya dengan memberantas narkoba, penangkapan pengguna dan pengedar serta bandarnya saja, melainkan dengan cara menyadarkan semua komponen bangsa, baik anak-anak, remaja, dan dewasa juga orang tua, akan bahaya Narkoba,” ujarnya.

Lanjutnya, dengan semakin banyaknya orang paham dan mengerti bahayanya narkoba, maka dapat dipastikan, peredaran dan produksi narkoba akan berkurang dengan sendirinya serta, ketika seluruh komponen bangsa menolak narkoba, maka narkoba dengan sendirinya akan hilang di negri yang kita cintai ini.

“Bagaimana menumbuhkan kesadaran akan bahaya Narkoba tentunya dengan cara sosialisasi, menyebarkan dan menjelaskan tentang bahaya narkoba, semua itu bisa kita kemas dalam suatu kegiatan yaitu penyuluhan yang dapat memberikan pemberitahuan dan pengarahan tentang bahaya narkoba dengan sasaran masyarakat, semua kalangan, profesi dan semua umur,” ungkap Oscar.

Dirinya berharap, dengan kesadaran tersebut, narkoba jadi tidak laku, karena pemakainya sudah sadar akan bahaya Narkoba. (fer)

Facebook Comments

Gus Nuril : Pemilik Jiwa Patriot Harus Tangguh

0

Jakarta, PatriotSatu. Com- Segala sesuatu Itu sudah diatur porsi dan proporsi nya. kejadian maupun hadiran Nya, nasib dan hasilnya.

Ketua Patriot Garuda Nusantara (PGN), Nuril Arifin atau Gus Nuril, mengatakan, bahwa salah satu guru dirinya,  Hadratysy Syeikh KH Abdul Aziz Bakhri Imam Puro, yang nyambung nasabnya ke Sunan Kalijaga,  selalu mengingatkan santrinya, “Innalloha fa’alu limayurid”.

“Maka, sesungguhnya cara terbaik mensikapi momentum apapun itu adalah, dengan bersandar fa Idza azamta FA tawakal alallah. Perjuangan kalah dan menang itu biasa. Itu isen- isenane dunyo’. Hanya pepaes hiasan keimanan,” ujarnya kepada PatriotSatu. Com, Selasa (31/7/2018).

Dia menanmbahkan, jika Kita adalah Pemilik jiwa Patriot, harus tetap Patriot, tangguh dan tanggon. Tidak cengeng dan tetap pemegang sayab Garuda Nusantara, PGN dan tetap semangat.

“Ingat wagai pemuda-pemudi pemilik jiwa Patriotik, para Senopati Nusantara, bahwa, di dalam kompetisi, perjuangan, kalah dan menang itu biasa. Tetapi yang harus diketahui, setiap perjuangan membela bangsa dan negara, kita tetap di menangkan Allah dan kita memenangkan cinta Allah dan Rasul Nya,” imbuh Gus Nuril. 

Lanjutnya, agar tetap bersiaga, dan ingatlah Allah itu maha Rohman maha kasih dan maha sayang. Tetapi Dia juga maha murka pada yang jahat. Yang hamil tetapi di dalam perutnya berisi kejahatan, ketamakan dan nafsu syahwat kekuasaan.

“Maka perhatikan janji Allah, Dia sendiri yang akan merentang Gendewa berisi anak panah, Dia sendiri yang mengasah pedang
dan menebaskan pedang tajam itu kepada orang – orang yang ingkar dan mengisi dunia dengan perpecahan, serta Allah tidak mengingkari janji,” pungkas Gus Nuril (Fer)

Facebook Comments

Gus Nuril Beberkan, 5 Ciri Teroris

0

 

Jakarta, PatriotSatu. Com-Pemimpin Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril angkat bicara terkait rentetan aksi rentetan terorisme di Indonesia beberapa waktu lalu, dirinya membeberkan sejumlah ciri individu yang patut diwaspadai sebagai teroris.

“Tahukah engkau, Wahai sahabat-sahabat ku,bahwa ternyata tidak semua teroris itu menjadi eksekutor bom, baik Bom high eksplosif atau daya ledak rendah. Bom khusus atau Bom bunuh diri dilapangan Mall, Gereja, Masjid, atau target yang sudah di tentukan bakal mengguncangkan rasa aman sekaligus memicu perhatian dunia,” Ujar Gus Nuril melalui Whatsapp beberapa waktu lalu.

Gus Nuril mengatakan, menurut mantan ketua densus 88 di DIY, teroris itu ada juga yang bekerja di Media Sosial (Medsos), ada 5 Indikator atau ciri khas teroris:

1.Yang bekerja di Medsos, mengatakan bahwa kejadian terorisme yang menelan banyak korban tersebut hanya settingan, drama, atau rekayasa. Ini dilakukan oleh para aktor teroris yang dalam kehidupan sehari-hari biasa saja, mereka membayar masyarakat sehingga tidak ada yang menilai bahwa dia sesungguhnya teroris jeji. Karena jika dilihat sepintas mereka berprofesi sebagai karyawan biasa, bahkan kadang bergerak di bidang jasa pariwisata, sebagai Pilot, pesawat terbang. Juga bisa saja ber profesi sebagai Dokter atau bahkan hanya sopir dan kadang ibu-ibu rumah tangga biasa. Ungkapan mereka di medsos di gelontorkan secara masif, datang dari berbagai daerah dan propinsi Seolah sebagai pendapat umum, Padahal di tujukan untuk membentuk opini agar masyarakat tidak bersimpati terhadap hilangnya nyawa korban.

2. Mereka membanjiri medsos dengan cerita dan kabar bias, Guyonan dan menyesatkan. Ini semua untuk mengalih fokuskan korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tak ada sangkut pautnya, tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris.

3. Menggunakan kata-kata yang tidak senonoh, bahkan melecehkan dengan membuat gambar keadaan korban, ini memang sesuai tabiat para teroris yaitu, Senang dan menikmati kesengsaraan manusia. Semakin korban nya menderita semakin berhasil mencapai tujuan Karena salah satu tujuan Terorisme adalah tercapai tingkat kepuasan dan keberhasilan bila korban nya tersiksa.

4. Suka menyalahkan, para teroris ini di segala level jabatan, seolah-olah sudah disetel seragam di Medsos atau dimana saja langsung menyalahkan aparat bila terjadi tindakan terorisme. Organ teroris yang ada di instansi-instansi baik umum, lembaga Ham sampai Partai serempak bersuara menyalahkan, kelemahan Intel, Perencanaan anggaran sampai tataran satisfaction atau tingkat kepuasan anggota penegak hukum. Padahal aparat hukum adalah garda terdepan membendung tindakan teroris. Tapi oleh para Teroris medsos keadaan nya diputar-balikan. Teroris pengebom bunuh diri, dianggap korban konspirasi, sedangkan aparatlah yang menjadi sutradara terorisme nya.

5. Suka mencaci, benar mereka ini sangat gemar mencaci maki pemerintah dengan istilah-istilah,tak enak bahkan kadang-kadang menyeret istilah agama dan keagamaan, Misalnya Pemerintah dituduh anti Islam, Thoghut, Musuh Allah, Pelaku bid’ah. Ini semua bertujuan membangkitkan aroma kebencian rakyat, khususnya fanatisme agama . Juga kedangkalan penguasaan rakyat atas syareat agama terhadap Pemerintah.
Dia menambahkan, orang mudah terseret arus hasutan dan pecahlah semangat persatuan dan kohesifitasness. Akar utama terorisme itu adalah Kebencian.

“Bukan persaudaraan atau kasih sayang juga Muslihat dan KEBENCIAN, mesti di ingat teroris hanya mau membunuh sesuatu yang dibenci nya,” imbuh Gus Nuril.

Lanjut Gus Nuril, Apakah anda memiliki teman Medsos yang suka melakukan 5 ciri di atas ? Pastikan dia adalah teroris atau minimal simpatisan teroris.
“Waspadalah terhadap orang semacam ini,” pungkas Sesepuh PGN,Nuril Arifin. (fer)

Facebook Comments

Media Massa Dinilai Telah Alami Pergeseran Peran dan Fungsi, Jebolan IISIP Gelar Diskusi Publik

0

Media Massa Dinilai Telah Alami Pergeseran Peran dan Fungsi, Jebolan IISIP Gelar Diskusi Publik Cibinong – Menyikapi fenomena keberadaan media yang dinilai sudah mengalami pergeseran dari peran dan fungsinya sebagai pilar keempat Demokrasi, belasan pewarta Bogor jebolan Institus Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Lenteng Agung, Jakarta Selatan, bakal menggelar diskusi publik bertajuk “Fungsi dan Peran Media Massa Pada Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019”. Diskusi publik yang akan dihelat di salah satu Cafe di Kawasan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor pada Senin (30/7/2018) besok, akan menghadirkan sejumlah kalangan akademisi diantaranya Bedy Irawan sebagai Pengamat Politik Universitas Djuanda Bogor, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor Haryanto Surbakti, Wartawan Senior Danang Donoroso, serta puluhan pewarta cetak, online dan elektronik. “Penyelenggaraan ini berawal dari keresahan kami terhadap fenomena yang berkembang sekarang ini, dimana pada saat Pilkada Serentak yang baru saja usai, media yang seharusnya berada pada perannya yang memiliki fungsi kontrol, sekarang ini dinilai sudah hampir terlepas dari relnya,” ungkap Ketua Panitia Penyelenggara Diskusi Publik, Irvani Ramdhan kepada awak media, Minggu (29/7/2019). Empang (sapaan akrab) menyebut, posisi media saat ini sudah terseret-seret oleh kepentingan individu, kelompok dan elit politik. Sehingga keberadaannya sebagai pilar keempat demokrasi sudah tidak lagi berdiri kokoh secara independen. “Media seharusnya berada di tengah melakukan kontrol atas penyelenggaraan pesta demokrasi baik terhadap para calon, penyelenggara dan masyarakat itu sendiri, bukan malah berada dibalik kepentingan ketiga unsur yang saya sebutkan tadi,” tegasnya. Atas dasar itulah, lanjut Empang, Ia bersama belasan teman pewarta alumni IISIP yang bertugas di Bogor, berusaha untuk mengingatkan media melalui forum diskusi tersebut untuk kembali kepada jatidiri media massa yang memiliki fungsi kontrol sesuai dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik. “Walau memang tidak semudah membalikan telapak tangan, namun ini perlu diawali dan dilakukan secara masiv agar dapat memberikan pelajaran dan nilai-nilai positif bagi pewarta yang berada di garda terdepan mewakili masing-masing medianya dalam bertugas,” lanjutnya. Menurtnya, media harus mampu membuka wawasan, mengedukasi dan mencerdaskan masyarakat sebagai pembacanya melalui pemberitaan yang disajikan. Dengan begitu, masyarakat dapat menyerap informasi dan berita yang disajikan media. “Disinilah tugas berat kita sebagai insan pers. Sebelum kita dapat mencerdaskan masyarakat pembaca, pendengar dan pemirsa, kita dituntut pula dapat mencerdaskan diri kita sendiri sebagai penyaji informasi,” ungkapnya. Belum lagi sambung dia, pada 2019 mendatang media dihadapkan dengan hajat rakyat dalam berdemokrasi yakni penyelenggaraan Pemilu (Pileg dan Pilpres) 2019 mendatang. Media pulalah yang diharapkan dapat memberikan pembelajaran politik secara baik kepada masyarakat. (adi)

Facebook Comments

Biografi Singkat Widji Thukul

0

Widji Thukul lahir 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Dia sendiri datang dari keluarga tukang becak. Anak tertua dari tiga bersaudara, berhasil menamatkan SMP (1979) dan masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, tapi tidak tamat alias DO (1982).

Selanjutnya ia berjualan koran, kemudian oleh tetangganya diajak bekerja di sebuah perusahaan meubel antik menjadi tukang pelitur. Di sini lah Wiji yang dikenal pelo (cadel) sering mendeklamasikan puisinya buat teman-teman sekerjanya. Menulis puisi mulai sejak di bangku SD, dunia teater dimasuki ketika SMP. Lewat seorang teman sekolah dia ikut sebuah kelompok teater JAGAT (singkatan Jagalan Tengah).

Bersama rekan-rekannya di teater inilah ia keluar masuk kampung ngamen puisi diiringi instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dll. Tidak hanya di wilayah solo, tapi juga sampai ke Yogya, Klaten, Surabaya, Bandung, Jakarta. Juga pernah ke Korea dan kota-kota besar Australia. Tidak hanya di kampung-kampung, juga masuk kampus, selain warung dan restoran.

Dalam sebuah wawancara dikatakan bahwa awalnya ia dianggap gila. Akhirnya menurut Wiji, sebelum ngamen puisi, dia ngamen musik (nyanyi) terlebih dahulu. Setelah empunya rumah siap, baru dia ngamen puisi.  Tahun 1988 pernah menjadi wartawan MASA KINI meski cuma tiga bulan. Untuk menyambung hidup, di samping membantu isteri membuka usaha jahitan pakaian, Wiji Thukul juga menerima pesanan sablonan kaos, tas, dll.
Saat mengontrak rumah di kampung Kalangan, Solo, ia menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Tahun 1992, sebagai penduduk Jagalan-Purungsawit ikut memprotes pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik tekstil. Wiji Thukul menerima WERTHEIM ENCOURAGE AWARD di negeri Belanda.
Bersama Rendra ia adalah penerima award pertama sejak yayasan itu didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda W.F. Wertheim. (Selanjutnya saya mengutip biografi Wiji dalam Rahasia Membutuhkan Kata-nya Harry Aveling) Semenjak serangan atas markas besar PDI-P Megawati Soekarnoputi pada (27) Juli 1996, Wiji merupakan salah seorang dari sejumlah buruh yang menentang melawan rezim Suharto (1966-98) yang kemudian mendadak “hilang”, dan tak dapat ditemukan lagi.
Sajak Wiji dikumpulkan dan diterbitkan saat dia diperkirakan sudah meninggal, oleh sebuah penerbit kecil yang cukup mencuat, Indonesia Tera, pada Juni 2000 dengan judul Aku Ingin jadi Peluru.
Referensi: ( karyapuisi.com)
Facebook Comments

Biografi dan Riwayat Marsinah

0

Marsinah lahir tanggal 10 April 1969. Anak nomor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak usia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya—Pu’irah—yang tinggal bersama bibinya—Sini—di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5 Nganjuk. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.

Di lingkungan keluarganya, ia dikenal anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. Sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. “Dia sering mengirim bontotan ke sawah untuk saya. Kalau panas atau hujan, biasanya anak itu memakai payung dari pelepah pisang,” kenang Suradji, pamannya Marsinah sambil menerawang. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya pergi untuk menyaksikan siaran berita televisi.

Ketika menjalani masa sekolah menengah atas, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, seperti juga nasib jutaan anak sekolah di Indonesia yang tidak mampu menyelesaikan sekolahnya karena tidak punya biaya.

Kondisi keluarga yang miskin membuat Marsinah meninggalkan desanya, sebuah langkah hidup yang sulit terelakan. Kesempatan kerja di pedesaan semakin sempit. Kerja sebagai buruh tani makin kecil peluangnya. Sekarang ani-ani—alat tradisional penuai padi—sudah berganti dengan sabit yang lebih efisien dan tidak memerlukan jumlah tenaga kerja sebanyak sebelumnya. Perkembangan teknologi, bukannya meningkatkan kesejahteraan rakyat, justru semakin menyingkirkan para buruh tani. Tidak mengherankan, bau keringat bercampur tanah sawah sudah tidak lagi memenuhi udara pedesaan. Lenguhan sapi yang kelelahan membajak tanah semakin jarang terdengar. Ia telah disingkirkan oleh deru mesin traktor.

Ujungnya adalah tidak ada pilihan lagi selain pergi ke kota. Maka ia berusaha mengirimkan sejumlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan gresik. Akhirnya ia diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989 dan memulai kehidupannya sebagai buruh seperti halnya jutaan kaum tani yang terseret ke pabrik-pabrik karena kemiskinan yang parah di pedesaan. Setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri, sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Kegagalan meneruskan ke perguruan tinggi bukannya membuat semangat belajarnya padam. Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang. Semangat belajar yang tinggi tampak dari kebiasaannya menghimpun berbagai informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.

Marsinah Berjuang

Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, ringan tangan dan setia kawan. Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Kalau ada kawan yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani.

Paling tidak dua sifat yang terakhir disebut—pemberani dan setia kawan—inilah yang membekalinya menjadi pelopor perjuangan. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah—menyambut dengan senang hati kabar kenaikan upah menurut Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok, namun himbauan ini tidak digubris oleh PT. CPS karena jelas akan membuat rugi perusahaan dan ini menimbulkan keresahan di antara para buruh.

Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 buruh PT. CPS mogok kerja dan menuntut kenaikan upah seusai dengan Surat Edaran Guberner Jawa Timur. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk mogok kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

“Tuntutan kami berikutnya adalah bubarkan SPSI, tapi Depnaker langsung berdiri dan menyatakan, ‘ini ciri-ciri dari PKI’. Alasannya, SPSI itu bentukan pemerintah dan legal. Kalau melawan langsung dinyatakan PKI. Kami sangat ketakutan kalau di cap sampai sejauh itu,” kata Klowor, pemimpin aksi ketika itu, pada peringatan malam kebudayaan “Marsinah Menggugat” di pelataran kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (sumber:www.vhrmedia.com)

Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha? Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu, tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.

Marsinah sadar betul bahwa peristiwa yang menimpa kawan-kawannya, dan juga dirinya sendiri, adalah suatu keniscayaan di negeri milik pengusaha ini. Dari kliping-kliping surat kabar yang diguntingnya, dari keluhan-keluhan kawan-kawannya se pabrik, dari kemarahan-kemarahan dan teriakkan, dan dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, semuanya memberinya pengetahuan tentang ketidakberesan  dalam masyarakat Indonesia.

Marsinah, dengan semangat kesetiawakawannya, mendatangi Kodim Sidoarjo sendirian pada hari itu juga untuk menanyakan nasib 13 rekannya yang dibawa ke sana. Sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Kawan-kawan Marsinah tidak mengetahui keberadaannya sampai tanggal 9 Mei, ketika mayat Marsinah ditemukan di pinggiran hutan jati Wilangan. Jasadnya ditemukan dengan tanda-tanda bekas kekerasan, sampai tulang duduk dan kemaluannya koyak seperti diterjang benda keras. Berdasarkan hasil autopsi Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Soetomo Surabaya) dan Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) ditemukan penyebab kematian Marsinah adalah penyiksaan berat dan ditemukannya tulang leher dan panggul yang hancur.

Dagelan-dagelan penyelidikan pun berlangsung tanpa seorang pun yang dikenai hukuman. Dari rejim Soeharto, Gus Dur, hingga Megawati,  kematian Marsinah dicoba diangkat lagi ke permukaan, tetapi kejelasan hukum tetap nihil. Hukum di negeri yang ‘demokratis’ ini seakan terkubur bersama dengan jasad Marsinah.  (sumber:www.militanindonesia.org )

***

Demikianlah kisah Marsinah, wanita pembela hak buruh yang masih menagih keadilan dari liang lahatnya,kawan. 18 tahun dan Marsinah masih saja menggugat. Demi memperjuangkan 550 rupiah yang merupakan hak rekan-rekan buruh, wanita muda pemberani itu harus meregang nyawa. Kasus Marsinah ini tercatat oleh ILO (International Labor Organization) sebagai peristiwa 1713 yang belum menemui titik terang hingga saat ini.

Selain Marsinah,masih ada ribuan nasib diluar sana yang belum terjamah. Terkubur dalam bisunya rasa takut, tenggelam dalam kepulan kabut keheningan. Kisah Marsinah bukan karena tragisnya maka saia publikasikan pada anda..Kisah Marsinah lebih dari sekedar menyambut Hari Buruh atau Mayday.
Kisah Marsinah adalah tentang perjuangan, tentang cita-cita. Ketika darah rekan seperjuangan telah tertumpah, maka malu lah anak muda jika cita-cita bersama tak kesampaian !

Marsinah ingin mengubah nasib… Bagaimana denganmu ?

Referensi: (www.vhrmedia.com www.militanindonesia.org www.tempo.com www.gatra.com)

Facebook Comments

Biografi “Munir” Said Thaib

0

Dengan nama lengkap Munir Said Thalib, (alm) Munir lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan meninggal pada 7 September 2004 di pesawat Garuda Jakarta-Amsterdam yang transit di Singapura. Ia meninggal karena terkonsumsi racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum. Pria keturunan Arab lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini merupakan seorang aktivis dan pejuang HAM Indonesia. Ia dihormati oleh para aktivitis, LSM, hingga dunia internasional.

Tanggal 16 April 1996, Munir mendiriikan Komosi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) serta menjadi Koordinator Badan Pekerja di LSM ini. Di lembaga inilah nama Munir mulai bersinar, saat dia melakukan advokasi terhadap para aktifis yang menjadi korban penculikan rejim penguasa Soeharto. Perjuangan Munir tentunya tak luput dari berbagai teror berupa ancaman kekerasan dan pembunuhan terhadap diri dan keluarganya. Usai kepengurusannya di KontraS, Munir ikut mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial, di mana ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif.

Saat menjabat Koordinator KontraS namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktifis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin oleh Prabowo Subianto (Ketum GERINDRA). Setelah Suharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota Tim Mawar.

Atas perjuangannya yang tak kenal lelah, dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif dariYayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998).

Kasus-Kasus Penting yang Pernah ditangani Munir

  1. Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993
  2. Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997
  3. Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997
  4. Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996
  5. Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT. Chief Samsung; 1995
  6. Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993
  7. Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994
  8. Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktifis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998 –> [Danjen Koppasus]
  9. Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998
  10. Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi 1 dan 2; 1998-1999
  11. Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999
  12. Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku
  13. Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS)

Dan masih banyak sekali kontribus (alm) Munir dalam penanganan kasus-kasus yang menyangkut pembelaan Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Sipil yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

*Kasus yang di’bold‘ merupakan dugaan-dugaan saya para pelaku [pihak yang merasa akan dirugikan oleh Munir] dibalik pembunuhan Munir. Mereka merasa ‘suara’ Munir yang membela para korban kekersaan dan kekejaman terlalu berbahaya bagi eksistensi kekuasan mereka.

Kronologi Kematian Munir

Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di Bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.

Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.

Persidangan Pembunuhan Munir

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjaraatas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Lalu pada 6 Juni 2008, mantan Komandan Kopassus TNI Angkatan Darat dan juga mantan Deputi BIN, Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Purwoprandjono ditangkap oleh polisi sebagai tersangka pembunuhan Munir. Selama beberapa bulan persidangan, akhirnya pada tanggal 31 Desember 2008, majelis hakim PN Jakarta Selatan memvonis bebas Muchdi Pr.

Referensi: (www.munir.co.id, id.wikipedia.org)

Facebook Comments

Biografi dan Riwayat Tan Malaka

0

Biografi Tan Malaka. Tokoh satu ini sangat terkenal dengan pemikiran pemikirannya yang revolusioner dan berhaluan kiri, Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka yang lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 1897, ia wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949. Beliau adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris namun pemerintah ketika itu menganggap dirinya sebagai pemberontak dan harus dilenyapkan.


Biografi Tan Malaka
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.Perjuangan Tan Malaka
Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh “sekelompok orang tak dikenal” di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar:

Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

Riwayat Tan Malaka

  • Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
  • Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
  • Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
  • Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.
  • Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
  • Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Madilog karya Tan Malaka
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Referensi: (biografiku dan id.wikipedia.org)

Facebook Comments