Beranda Nusantara Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan

Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan

349
0

PatriotSatu.com-Bogor,Jawa Barat, Jum’at(17/07/2020),
Realitas masyarakat Bogor yang multikultur sebagai daerah penyangga ibu kota jakarta tak bisa dipungkiri memiliki corak keragaman dari mulai kondisi sosial,politik hingga faham keagamaan tapi hampir memiliki dominasi pemikiran yang ekstrim.

Selasa malam (14/07/2020) diadakan dialog perdana tentang kebangsaan yang mengawali kegiatan tersebut digelar di Rumah Singgah Kyai Ahmad Suhadi selaku ketua Barikade Gusdur Bogor Raya dan juga sebagi ketua Forum Kebangsaan Bgor Raya,beliau mendaulat sebagai pembicara yaitu Kyai Abdullah shomdani dari Tokoh NU kabupaten Bogor,Js.Eeng Havendi Tokoh Makin Khonghucu kabupaten Bogor,dan Maulana Basuki Ahmad Tokoh Ahmadiyah kabupaten Bogor.

Dialog Kebangsaan di Bogor walaupun boleh dibilang tidak terlalu seksi dalam konteks Bogor,lambat lebih baik taripada tidak. Ironisnya dari hasil survey stara Institute Bogor memiliki tingkat resistensi yang sangat tinggi dan nyaris tindak kekerasan atas nama agama kerap terjadi alih-alih Bogor berperingkat ke sepuluh intolarasi pada tingkat populasi Nasional, hal itu telah membawa alur pemikiran dan gerakan yg kontra produkrif dengan faham Moderat keagamaan yang dimiliki NU,padahal Bogor warganya mayoritas nahdliyin bahkan hingga 80 persen amaliyahnya amaliyah NU, Ujar suhadi.

Eeng Havendi dari Makin Khonghucu mengatakan,toleransi saat ini dirasakan menurun sementara dulu saat masih kecil eeng sedikit bernostalgia toleransi dirasa begitu indah,jika muslim berhari raya umat khonghucu membantu dan begitupun sebaliknya saat imlek tetangga muslim saling membantu dan saling kunjung.

Kenang eeng toleransi bukan untuk saling mempengaruhi umat lain untuk berpindah dari agama yg dianutnya ke keyakinan agama lain.
biarlah agama menjadi pilihan privasi seseorang kepada Tuhan.Tegas Eeng.

Sementara itu Maulana Basuki Ahmad dari Ahmadiyah yg didampuk sebagai pembicara dengan tema *”Sesama Organisasi Saling Bersinergi Selama Pakem Ideologi Kebangsaan Sama”*.Basuki menjelaskan interaksi antar penganut kepercayaan atau keagamaan bukan untuk mempengaruhi apalagi memaksa akan tetapi berinteraksi dengan umat lain yg beda hanyalah sebatas utk mengenal sehingga dengan perkenalan tersebut saling menguatkan dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan.Demikian menurut Basuki.

Kyai Shomdani yg mengetengahkan tema *”NU Sebagai Ormas Pengawal NKRI”* berujar, bagi pemahaman NU memaksa untuk sama dalam satu madzhab dan agama adalah penyimpangan agama itu sendiri.Bagaimana perjuangan NU yang dilakukan Kyai Hasyim Asyari,Kyai Wahab Hasbullah dan kyai-kyai Muasis NU saat-saat akan lahirnya NU 1926 telah diuji ketika protes keras Raja Arab Saudi bernama Raja Saud untuk menjadikan satu Madzhab saja yaitu faham Wahabi di Arab apalag membatasi jamaah haji yg datang hanya kaum wahabi saja,tampilnya muasis NU di Arab Saudi untuk memprotes kebijakan raja Saud bahwa dengan menjadikan satu aliran madzhab di jazirah Arab itu merupakan penyimpangan dan pelanggaran dari Hak Asasi yg mesti harus dihargai sebagai pilihan pada setiap individu umat manusia.Kata Shomdani mempertegas diskusi.

Diskusi ini rencananya akan terus dilanjutkan dengan harapan bisa memangun literasi yang lebih baik dari pemahaman yg selama ini terlalu tekstual dengan menyelaraskan tekstual kepada konteks kekinian sehingga faham Intoleran,ekstrim dan radikal di wilayah Bogor tidak boleh lagi terjadi.
Sinergitas dalam membangun bangsa tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kelompok saja tapi harus bersama-sama seluruh komponen masyarakat.(Shd)

Editor : SRS

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here