Beranda General Peran Mahasiswa Jaman Now, Dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Era Global...

Peran Mahasiswa Jaman Now, Dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Era Global Informasi

453
0

PatriotSatu.com – Serang,Banten(13/12/2019) Mahasiswa zaman now memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme dan terorisme. Istilah “mulutmu harimaumu” dan dijaman medsos saat ini “jarimu adalah cakarmu” memiliki arti “Apapun yang kita lakukan terutama di media sosial bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak dinginkan.

Berikut disampaikan oleh Rizki Ikhwan S.STp, M.Si, dari Kominfo Serang. Saat menjadi pemateri dalam acara dialog kebangsaan dalam pencegahan radikalisme yang digelar oleh Aliansi Pemuda Peduli Negeri (APPN) di salah satu rumah makan di Kota Serang, Jumat (13/12/2019).

“Hal itu disebabkan oleh minimnya pemahaman yang diterima sehingga dialog-dialog kebangsaan seperi ini sangat diperlukan dimana bertemunya guru dengan murid secara langsung akan membangkitkan pemahaman,” ujarnya.

Selain itu, sebagai mahasiswa, menghidupkan lagi lagu-lagu nasionalisme terutama di lingkungan pendidikan, karena melalui itu akan membantu timbulnya jiwa-jiwa nasionalisme. Hal ini sederhana namun cukup bermakna dalam memunculkan rasa nasionalisme.

“Buatlah gerakan pemahaman ideologi bangsa kita, jangan hanya dimulut namun perlu kita aplikasikan melalui gerakan kegiatan mahasiswa. Pendidikan formal, non formal dan informal,” tuturnya.

“Gerakan-gerakan ini perlu kita mulai dari lingkungan terkecil kita yaitu keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa peran keluarga juga sangat penting dalam melindungi Pancasila sebagai ideologi bangsa,” pungkasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa dan pemuda untuk bersama-sama, membalas kebaikan tanah air kita yang telah berbaik hati kepada kita sejak kita lahir, mari berkarya lebih baik, cintai tanah air, dan saling menghargai antar umat beragama, antar suku dan antar budaya.

Selanjutnya penjelasan yang luar biasa disampaikan oleh Gus Soleh dalam kesempatan itu ia mengungkapkan terimakasihnya kepada seluruh rekan-rekan seperjuangannya yang telah mengikuti dan mensukseskan acara tersebut.

Dengan tegas ia mengatakan akan mendukung kegiatan Mahasiswa/ Pemuda, para Aktivis dan para Kyai serta Ustadz yang membela terus tegaknya Empat Pilar Bangsa yaitu PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Lanjutnya “Diera reformasi kran demokrasi dibuka lebar-lebar, sehingga bangsa Indonesia mengalami perubahan iklim dalam demokrasi menjadi demokrasi yang bebas, sehingga lahirlah begitu banyak partai dan banyak diantara mereka memanfaatkan konten agama untuk mendapatkan kursi kekuasaan, dengan menggunakan issu/ sentimen agama. Media sosial (Medsos) dijadikan salah satu media kampanyenya, yang akhirnya lahirlah generasi media sosial yang memiliki dampak positif dan negatif, adapun dampak negatifnya adalah menghalalkan segala cara untuk tercapainya kekuasaan tersebut, dengan menganggap kebenaran hanya golongannya dan yang lain adalah salah, dengan cara ujaran kebencian atau nyiyir, menebar berita bohong (hoak), mengkafir kafirkan kelompok lainnya (takfiri), sehingga agama tidak lagi menjadi payung yang bisa mengayomi umat tapi justru terkoyaknya toleransi di Indonesia.

Menurut Gus Sholeh, perlu untuk bisa membedakan mana itu “agama”, “paham keagamaan/ madzhab/ sekte” dan “kekuasaan agama/ negara tuhan”. Sementara negara kita Indonesia ini tidak hanya terdiri dari satu agama, didalamnya ada Islam, Kristen, Katolik, Khonghucu, Budha dan Hindu, yang mayoritas adalah agama Islam. Sehingga Islam kerapkali digunakan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, dengan menggunakan sentimen/ issu agama agar mendapatkan simpati suara dengan menerapkan perda-perda syariah tanpa memikirkan keberadaan dan ketersinggungan daripada umat agama lain.

Dari sinilah timbulnya pergesekan diakar rumput dan akhirnya timbulnya radikalime, dan apabila tidak segera ada pencegahan bisa berakhir menjadi terorisme, disebabkan karena kita belum bisa membedakaan ketiga hal tersebut diatas yaitu “Agama”, “Pemahaman Keagamaan” dan “Kekuasaan Agama” sehingga membuat kita inklusif, menganggap kelompoknya paling benar dan tegaknya ajaran agama harus direbutnya kekuasaan, padahal itu semua adalah cara-cara mereka yang haus akan kekuasaan dengan bertopengkan agama dijadikan sebagai kendaraannya.

Terakhir Gus Sholeh menjelaskan bahwa untuk terciptanya suasana keagamaan yang adem ayem dan tenteram solusinya adalah kita semua harus memiliki tindakan dan pemikiran keagamaan sebagai berikut; “Tawassuth” (moderat), “Tawazun” (seimbang), “I’tidal” (tegak lurus membela kebenaran yang bersifat universal), dan Tasamuh (toleransi).
(GSM)

Editor : mfs

Facebook Comments