Ah Engkau Ini Loh M

Mbok jangan begitu, hidup itu ada masanya kalah, ada masanya menang. Engkau menang ketika berhasil menelikung sahabat sendiri dari kursi Presiden.

Semua orang juga tahu bahwa Gus Dur itu engkau yang merayu untuk tampil mengamankan negeri (NKRI) sebagai Presiden, manakala saat itu Nusantara akan terbelah.

Tetapi sahabat yang sering menengok mu saat belajar ke Amerika, dan memberi peluang untuk menanggulangi keuntungan program minyak untuk pangan (Oil For Food) PBB bagi Irak, engkau lengserkan. Orang tahu apalagi warga NU, ilmu Sengkuni mu yang sangat fasih dan lihai itu sedemikian cantik engkau pahami.

Waktu itu, engkau menang juga ketika engkau yang sering terima sumbangan pak Soeharto, lalu engkau sendiri yang merekayasa kehancurannya.

Tetapi sahabatku M, Urip Kuwi koyo Cokro manggilingan. Kadang diatas kadang di bawah. Kadang jaya, kadang ashor, kadang menang dan kadang kalah.

Sebagai seorang profesor doktor, mantan ketua MPR yang merekayasa UUD 45 dari 37 pasal menjadi 137 pasal, sebaiknya sadar usia. Keadaan tidak sama, alam sudah memperingatkan mu.

Saudaraku mas M,
Saya kok jadi bingung dengan perilaku dan sikap serta tafsir ilmu mu yang baru.

Di panggil Kpk teriak, bubarkan KPK, dipanggil polisi teriak copot Kapolri, kalau kamu mati dipanggil Tuhan mu teriak apa?

Ayo naik gunung bersama ku, tahanut, topo, nyepi sinambi Wiridan dan mengosongkan pikiran. Memuliakan hati dengan Tazkiatul qolbi. Mencuci Dodot iro, jangan hanya nurutin maunya emosi ghodob.

Percayalah, tidak ada habisnya kok, percayalah pada sahabat mu ini, sesekali.

 

Oleh : Cah angon bebek turut kali Nuril                     Arifin FH MBA.

Jakarta 12 Oktober 2018