Beranda Opini Astaghfirullah, Ratna Sarumpaet ku

Astaghfirullah, Ratna Sarumpaet ku

367
0

 

Semoga, melahirkan hikmah bagi bangsa ini semoga ada sisi untuk saling menyatu kembali, sebagai bangsa yang besar
yang mampu memaafkan.

Terus terang, saya memaafkan mu mbak Ratna Sarumpaet, saya bisa mengerti posisimu, saya lihat, Saya tahu dan memahami. Engkau hanya alat, barang pecah belah, temporal saja.

Seperti tokoh Tri Masketir, Jonru, Buniyani, MUh Riziek Sihab.

Aktor figuran lain, yang mabuk pujian meski dengan peran kecil, dikala saat dibutuhkan. Entah di bagian kebaikan atau sekedar tambalan antagonis yang tidak sepadan.

Setelah skenario Cerita nya selesai, rampung. Engkau yang ditempelkan atribut, sebagai Imam Besar, sebagai Cut Nya Dien, sebagai Wirosableng on hisgang yang begitu menghayati perannya. Peran baik atau jahat. Dibuang begitu hina. Tanpa pembelaan.

Tentu saja, agar drama dan nasib aktor pelakon sebagai Hero dapat pujian, engkau disingkirkan di eliminasi di ceburin ke selokan begitu saja.

Seperti kotoran di hidung dicutik terpental dari kuku kelingking, setelah lepas dari hidung mu. Bahkan bekasnya mu pun, tidak tampak perbah ada.

Dulu, ingat nggak ? ketika peran mu masih asli, sebagai Srikandi Nusantara. Ketika engkau di ancam FPI, engkau sering juga datang ke kami.

Engkau, datang ke pesantren Abdurahman Wahid Sokotunggal Di Jalan Sodong Utara 5 No. 18, Rawamangun, Jakarta timur.

Diantar oleh mantan Jubirnya Gus Dur, (Hadratusy syeikh KH Abdur-rahman Wahid) mas Adi Masardi.

Kami simpati, kami mengerti, apalagi engkau juga sering cerita, bahwa engkau masih berdarah Habibbah, sungguh kami harus mengerti.

Maka, sekarangpun kami mengerti, kami memaafkan my,  kami menunggu mu di titik perjuangan yang tulus, seperti jaman dulu.

Saya tahu, tempatmu tidak di sana, belantara buas tanpa etika dan papa akan adab dan estetika.

Saya tahu, sesungguhnya engkau tidak butuh operasi ke klinik estetika, untuk merubah wajah tua agar kembali muda.

Karena, seniman dan budayawan itu keluar dari cangkang raga, darah dan ke dagingan manusia. Tetapi dalam Ruh, dalam Dinar Cahaya dan mestinya hidup di kawasan moral dan akhlaq.

Saya tahu, engkau tidak mampu menyesuaikan diri dilingkungan pemburu kekuasaan. Karena engkau biasa di disisi seberangnya.
Lalu Setan mana yang membisiki mu tiba-tiba engkau berasyik Masyuk dengan dinasty penguasa.

Putra Mahkota Orde baru dimasa dulu, bukankah mereka menempatkan mu sebagai Satru (musuh bebuyutan mu) ?

Jadi, aku memaafkan mu, kami senang engkau tersadar dan dengan sisa-sisa putih, kekuatan kebaikan yang tertempel di qolba, engkau menghiba mengaku dosa.

Datanglah, pulang ke habitat
dan ekosistem mu

kembali ngaji lagi ke pondok pesantren Abdurahman Wahid PonPes Sokotunggal.
Ayo, ngaji kembali tentang hati, bukan Ngudi sampah dunia yang jauh dari saripati diri.

Penulis : Cah angon pinggir kali Nuril Arifin FH MBA

Facebook Comments