Beranda Pemerintahan & Politik Awas Penumpang Gelap Bikin Gaduh Pilpres, Ini Kata Gus Sholeh

Awas Penumpang Gelap Bikin Gaduh Pilpres, Ini Kata Gus Sholeh

402
0

Jakarta, PatriotSatu.com– Gus Sholeh Mz hadir sebagai narasumber pada acara diskusi publik yang diselenggarakan oleh Aliansi Rakyat Bersatu (ARB), di Omah 45, Gedung Juang 450 Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018) acara diselenggarakan di Omah Kopi 45, Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Diskusi publik yang mengangkat tema, ”Awas Penumpang Gelap Bikin Gaduh Pilpres 2019″, juga di isi oleh beberapa narasumber lainnya, Politikus Senior Ruhut Sitompul, Politikus PKB Razman Arif Nasution, Ahokers Pangeran Norman, Politikus Partai Perindo Pahala Sianturi, dan Ketum DPP Geomaritim Baharudin Farawowan.

Gus Sholeh Mz menuturkan, jika diambil dari sudut pandang Balaghoh, arti penumpang gelap yang jadi titik tolak utamanya adalah masalah ideologi bangsa kita. Paska keruntuhan negara khilafah yang berakhir jaman Khilafah Turki Usmani, perkara negara agama, didalam agama Islam, khususnya masyarakat Islam itu, belum selesai secara maksimal.

“Ketidak selesaian ini dimanfaatkan atau digunakan oleh kelompok atau negara ketiga atau New Insprialisme, yang mana mereka didukung, dipasok dana, agar pola pikir ini terus ada dan terus bergerak. Dokterin utama didalam Islam, secara universal arti Islam adalah dinul haq agama yang haq yang datang dari Allah Swt dan di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW,” saat memberikan pemaparan sebagai narasumber.

Dia menambahkan, namun tokoh Profesor Muhamad Saltut, mendefinisikan lebih exsplisif “al-islamu aqidatun wa syariatun” bahwa islam adalah aqidah dan syariat, dan tokoh Ikhwanul Muslimim Syayed Kutub mendefinisikan “al-islamu aqidatun wa daulah” bahwa islam itu adalah aqidah dan daulah atau negara atau kekuasaan, dan inilah yg dipakai oleh kelompok Ihwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir (HT) dalam menjalankan misinya bahwa untuk tegaknya islam harus kembali menegakkan khilafah atau daulah, sebab dengan kekuasaan maka aqidah dan syariat islam akan dapat tegak. Maka kelompok HTI dan IM para tokoh – tokoh mereka yang ada dan telah berkembang di Indonesia, hendak mengubah sistem negara NKRI dan Pancasila dengan khilafah.

“Yang mana tokoh utama mereka menyatakan bahwa Islam dan akidah tidak lepas dari pada daulah atau kekuasaan atau negara agama. Dan negara ketiga atau New Isprialisme, melihat celah ada disini, ” maka dipakailah, digunakanlah, salah satunya adalah Timur Tengah yang juga pernah dijajah oleh negara – negara Eropa dan dipersatukan oleh pemikiran Jamaludin Al Afghan, dengan perlunya menyatukan arab untuk melawan dan mengusir penjajah dibumi arab, dan pemikiran ini dikembangkan oleh Syayid Kutub untuk pan islamisme dengan menegakkan kembali khilafah, karena dengan  tegaknya khilafah islam dapat mengusai diseluruh dunia,” imbuh Gus Sholeh.

Lanjutnya, di era reformasi kran demokrasi kita di buka lebar-lebar, semua paham masuk temasuk paham Islam Transnational, kebetulan Indonesia Islam adalah agama mayoritas sehingga berkembang dan dapat tumbuh, padahal bukan hanya Islam, Kristen juga sudah ada tiga ratus lebih sinode yang masuk di Indonesia diera reformasi ini.

“Disini perlu kita sama–sama ketahui, negara-negara ketiga dan juga kelompok-kelompoknya, (penumpang gelap-red), khususnya pada saat pesta demokrasi lima tahunan sekali, apalagi Pemilu saat ini di kumpulkan pada waktu yang bersamaan Pileg dan Pilpres,” ungkap Gus Sholeh.

Menurutnya, acara ini sangat menarik dibuat, siapakah penumpang gelap itu? masih cenderung kepada masalah ideologi ini, di Indonesia telah masuk dua kelompok besar yaitu sistem negara khilafah yang diusung oleh IM dan HTI dan negara imamah yang diusung oleh kelompok Syiah, selain itu ada juga kelompok-kelompok kecil. Dikelompok mereka terbagi tiga kelompok besar, yang pertama para Jihadis, Jihadis ini, seperti JI, Al Qaidah, dan ISIS,  Kedua kelompok dakwah dengan memasukkan ideologi mereka seperti Hizbut Tahrir (HTI), Ikhwanul Muslimin (IM) dan juga konsep imamah yang dibawa oleh Syiah, dan yang ketiga konsep pembauran, yang mungkin bagi kita, ini munafikur tapi bagi mereka itu halal selama target untuk tujuan kepentingan mereka. Mereka masuk pada sistem negara tersebut dan mengikuti sistem tersebut, seperti sistem di Indonesia, sistem demokrasi, mereka masuk mengikuti sistem demokrasi ini, apabila kursi mereka lebih dari lima puluh plus satu dari kelompok mereka, maka akan dirubah bangsa ini sesuai agenda terselubung mereka.

“Langkah awal mereka sebagai batu pijakan digunakan Perda-perda Syariat. Maka diawal Reformasi banyak bermunculan sekali perda-perda syariat, contohnya saja di Madura, Sumatera, dan yang tidak jauh dari Ibukota di Tanggerang Selatan. Kemudian langkah selanjutnya selalu menyuarakan Desa Syariat, Kota atau Kabupaten Syariat, apabila ini dapat terwujud meskipun hanya beberapa kota atau kabupaten, kemudian mereka mendengungkan Negara Islam dan ghoyatul akso atau tujuan utama mereka tegaknya Khilafah,” Terang Gus Sholeh.

“Alhamdulillah berkat ketegasan seorang Presiden Jokowi perda-perda tersebut bisa ditutup dihilangkan semua karena tumpang tindik dengan perundang – undangan yang lainnya yang telah ada, dan juga organisasi dan gerakan mereka HTI juga telah ditutup dan tidak dibolehkan di Indonesia, ini semua berkat kehebatan Presiden kita yang ada saat ini, yaitu Presiden Jokowi yang cukup tegas bahwa NKRI dan Pancasila sudah final,” Gus Sholeh. (*)

Editor : Erefer

Facebook Comments