Patriotsatu.com – Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan pada hari Minggu September 2018,  memimpin rapat Percepatan Normalisasi Kegiatan Pariwisata Pasca bencana gempa Lombok yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi dan aparat pemerintah pusat serta daerah yang terlibat dalam pemulihan pasca gempa.

Menko Luhut menuturkan, bahwa diri nya tidak mengira bahwa jumlah wisatawan ke Pulau Gili Trawangan tidak terlalu terpengaruh oleh bencana gempa yang baru terjadi beberapa waktu lalu.

“Saya tidak bayangkan pulau ini bisa menarik turis sebesar itu, jumlah wisatawan perharinya saat ini 1,500 orang. Sekarang kita harus bergerak, membangun kembali daerah ini. Gempa ini membuat kita menyadari apa kekurangan kita di sini dan bagaimana memperbaikinya. Dengan kejadian ini kita sadari sistem sampah di pulau ini tidak bagus dan kita harus perbaiki,” tutur nya.

Dia menambahkan, pemerintah akan mengusahakan untuk mendatangkan incinerator berkapasitas 10 ton per hari ke Gili Trawangan agar sampah di pulau Gili Trawangan ini bisa diolah dan dimanfaatkan untuk pulau tersebut.

“Kita sudah punya pengalaman mengelola yang seperti ini di Labuan Bajo, Banjarmasin dan beberapa daerah lain. Dari penanganan di Kali Citarum, kita bisa upayakan masyarakat bekerja sama mengelola ini, tentunya kami akan membantu membuat mekanismenya,” imbuh Menko Luhut.

Dirinya juga meminta, Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar untuk membantu mengkoordinasikan kegiatan tersebut agar semua bisa berjalan terpadu, tidak sendiri-sendiri.

Menko Luhut mengungkapkan, ia sangat terkesan dengan keindahan Gili Trawangan, tanpa kendaraan bermotor hanya sepeda dan andhong yang diperbolehkan beroperasi.

“Menurut saya yang seperti ini harus dipelihara, dijaga kebersihannya. Sampah andhong tidak boleh dibuang sembarangan dengan demikian wisatawan akan semakin tertarik untuk datang,” ungkap nya.

Lanjut nya, pemerintah juga akan membangun Jetty baru untuk mengakomodasi kebutuhan para wisatawan.

“Saya sudah bicara dengan Menhub Budi Karya agar secepatnya pada bulan November, Jetty sudah bisa dimulai pembangunannya. Kemudian aspal, kami akan bicarakan dengan Menteri PUPR untuk membangun jalan aspal,” kata Menko Luhut.

Namun demikian, Menko Luhut juga mengingatkan agar kedatangan para turis dijaga, agar tidak terlalu sesak nantinya dan dalam pembangunan kembali, Menko Luhut menyarankan, agar kualitas bangunan harus lebih baik agar tidak mudah rusak.

Dalam rapat tersebut terungkap pemerintah harus lebih memberi perhatian lebih kepada wilayah Rinjani dan Senaru. Wilayah pendakian ini mengalami kerusakan pada track nya dan sebagian besar hotel belum beroperasi.

Luhut meminta TNI dan Zeni nya untuk melakukan assesment di wilayah itu, Rinjani adalah Geopark yang sudah diakui UNESCO.

Diketahui, Sebelum rapat, Menko Luhut berjalan mengelilingi Pulau Gili Trawangan dan berbincang dengan wisatawan dan para pelaku usaha. Ia menemui dan bertanya kepada wisatawan, dan bertanya  kepada wisatawan yang berasal dari Inggris, Matthew,  apakah tidak takut datang ke Gili Trawangan.

“Saya tidak takut, karena saya senang pulau ini dan saya melihat perbaikan sudah dilakukan oleh pemerintah Anda,” jawabnya.

Sementara itu, Christian dari Austria yang datang bersama empat teman nya yang berasal dari India juga mengatakan kepada Menko Luhut ia senang melihat respon cepat dari pemerintah dalam menangani dampak gempa di Gili Trawangan.

“Kami tidak takut untuk datang ke Gili Trawangan salut kepada aparat militer dan polisi yang membantu membangun kembali pulau ini, ” katanya kepada Menko Luhut.

Bukan hanya wisatawan dari luar negeri, wisatawan lokal pun sudah mulai datang ke pulau ini seperti Ibu Agoes yang datang bersama dua temannya.

“Kami datang dari Jakarta, Pak. Kami tidak ragu dan senang melihat pulau ini sudah pulih,” katanya.

Pagi harinya, Menko Luhut meninjau perkembangan pembangunan Pelabuhan Benoa. Menurut pihak Pelindo 3 sebagai pengelola Pelabuhan Benoa, pekerjaan pendalaman alur pintu masuk kapal ada yang masih tertunda sekitar 2 meter. Menko Luhut mendapat keterangan terhambatnya pekerjaan tersebut karena terhalang oleh adanya kapal kapal yang parkir di tempat itu.

Pihak pelabuhan mengatakan mereka masih menunggu perintah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai pihak yang menangkap kapal-kapal tersebut- apa yang akan dilakukan terhadap kapal-kapal itu. Ada sekitar 270-an kapal yang masih berada di Pelabuhan Tanjung Benoa yang masih menunggu proses pembuatan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).

“Sekarang kita harus dorong agar kapal-kapal ini segera punya SIPI agar tidak menghalangi pengerjaan pendalaman Pelabuhan Benoa ini,” kata Menko Luhut.

Pelindo 3 menjelaskan, bahwa Pelabuhan Benoa ini juga terkait dengan Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Benoa yang telah mendapat persetujuan pemerintah. Lahan yang sekarang ditimbun ini akan diratakan untuk pengembangan pelabuhan di Teluk Benoa, jadi bukan reklamasi Tanjung Benoa.(Fer)