PatriotSatu. Com – Demokrasi Pancasila berbeda dengan demokrasi liberal. Jelas beda, demokrasi yang dibangun dengan ruh dan spirit Kebhinekaan ini juga berbeda dengan sistem komunis dan khilafah.

Ruh Demokrasi Pancasila tidak boleh meninggalkan Ketuhanan. Sekaligus tidak menjadikan Tuhan sebagai topeng yang digunakan untuk menjustifikasi dan pembenaran kelompok Agama.

Maka Demokrasi kita butuh penjagaan agar tidak meninggalkan nilai nilai Agama. Dengan demikian demokrasi itu akan sejalan dengan nilai Kemanusiaan. Dengan hati yang Bertuhan demokrasi akan berjalan persis wajah bangsa Indonesia yang berbeda Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bukan demokrasi yang biadab dan menganggap yang berbeda menjadi kawan dan musuh yang harus disingkirkan.

Demokrasi yang menggejala saat ini cenderung kepada diktator mayoritas dan tirani minoritas. Membelah bangsa dan memunculkan potensi peperangan yang nggegirisi timbul nya Perang saudara.

Julukan binatang menjadi akrab di telinga dan cenderung meninggalkan semangat persatuan Insaniyah dan Wathoniyah. Kubu kubu’an mencapai titik ekstrim permusuhan dua binatang yang satu Kecebong dan pihak lain Kampret.

Sehingga karena dhon atau prasangka, sehingga sifat kebinatangan itu bukan nya sistem demokrasi yang berpersatuan Indonesia, malah menjadi pembelajaran bangsa.

Rakyat terpinggirkan semua ruas ruas musyawarah tertutup dan mati. Partai membajak hak hak rakyat untuk bermusyawarah. Semua bagian diambil alih oleh partai dan menyusun koalisi koalisi untuk meraih kekuasaan.

Rente rente ekonomi atas bayaran konglomerat dan zionis berbungkus Illuminati internasional, ini bukan demokrasi bung, ini bukan ajaran Bung Karno Hatta, bukan ajaran HOS Cokroaminoto Aminoto, bukan ajaran KH Ahmad Dahlan, bukan ruh yang di tuangkan oleh Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari, bukan sifat Gajah Mada dan Empu Prapanca, Empu Sedang dan empu Panuluh. Ini bukan warna Moehammad Yamin atau KH Wahid Hasyim dan team 9 atau team 9 BPUPKI. (Gus Nuril)