Beranda blog

Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan

0

PatriotSatu.com-Bogor,Jawa Barat, Jum’at(17/07/2020),
Realitas masyarakat Bogor yang multikultur sebagai daerah penyangga ibu kota jakarta tak bisa dipungkiri memiliki corak keragaman dari mulai kondisi sosial,politik hingga faham keagamaan tapi hampir memiliki dominasi pemikiran yang ekstrim.

Selasa malam (14/07/2020) diadakan dialog perdana tentang kebangsaan yang mengawali kegiatan tersebut digelar di Rumah Singgah Kyai Ahmad Suhadi selaku ketua Barikade Gusdur Bogor Raya dan juga sebagi ketua Forum Kebangsaan Bgor Raya,beliau mendaulat sebagai pembicara yaitu Kyai Abdullah shomdani dari Tokoh NU kabupaten Bogor,Js.Eeng Havendi Tokoh Makin Khonghucu kabupaten Bogor,dan Maulana Basuki Ahmad Tokoh Ahmadiyah kabupaten Bogor.

Dialog Kebangsaan di Bogor walaupun boleh dibilang tidak terlalu seksi dalam konteks Bogor,lambat lebih baik taripada tidak. Ironisnya dari hasil survey stara Institute Bogor memiliki tingkat resistensi yang sangat tinggi dan nyaris tindak kekerasan atas nama agama kerap terjadi alih-alih Bogor berperingkat ke sepuluh intolarasi pada tingkat populasi Nasional, hal itu telah membawa alur pemikiran dan gerakan yg kontra produkrif dengan faham Moderat keagamaan yang dimiliki NU,padahal Bogor warganya mayoritas nahdliyin bahkan hingga 80 persen amaliyahnya amaliyah NU, Ujar suhadi.

Eeng Havendi dari Makin Khonghucu mengatakan,toleransi saat ini dirasakan menurun sementara dulu saat masih kecil eeng sedikit bernostalgia toleransi dirasa begitu indah,jika muslim berhari raya umat khonghucu membantu dan begitupun sebaliknya saat imlek tetangga muslim saling membantu dan saling kunjung.

Kenang eeng toleransi bukan untuk saling mempengaruhi umat lain untuk berpindah dari agama yg dianutnya ke keyakinan agama lain.
biarlah agama menjadi pilihan privasi seseorang kepada Tuhan.Tegas Eeng.

Sementara itu Maulana Basuki Ahmad dari Ahmadiyah yg didampuk sebagai pembicara dengan tema *”Sesama Organisasi Saling Bersinergi Selama Pakem Ideologi Kebangsaan Sama”*.Basuki menjelaskan interaksi antar penganut kepercayaan atau keagamaan bukan untuk mempengaruhi apalagi memaksa akan tetapi berinteraksi dengan umat lain yg beda hanyalah sebatas utk mengenal sehingga dengan perkenalan tersebut saling menguatkan dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan.Demikian menurut Basuki.

Kyai Shomdani yg mengetengahkan tema *”NU Sebagai Ormas Pengawal NKRI”* berujar, bagi pemahaman NU memaksa untuk sama dalam satu madzhab dan agama adalah penyimpangan agama itu sendiri.Bagaimana perjuangan NU yang dilakukan Kyai Hasyim Asyari,Kyai Wahab Hasbullah dan kyai-kyai Muasis NU saat-saat akan lahirnya NU 1926 telah diuji ketika protes keras Raja Arab Saudi bernama Raja Saud untuk menjadikan satu Madzhab saja yaitu faham Wahabi di Arab apalag membatasi jamaah haji yg datang hanya kaum wahabi saja,tampilnya muasis NU di Arab Saudi untuk memprotes kebijakan raja Saud bahwa dengan menjadikan satu aliran madzhab di jazirah Arab itu merupakan penyimpangan dan pelanggaran dari Hak Asasi yg mesti harus dihargai sebagai pilihan pada setiap individu umat manusia.Kata Shomdani mempertegas diskusi.

Diskusi ini rencananya akan terus dilanjutkan dengan harapan bisa memangun literasi yang lebih baik dari pemahaman yg selama ini terlalu tekstual dengan menyelaraskan tekstual kepada konteks kekinian sehingga faham Intoleran,ekstrim dan radikal di wilayah Bogor tidak boleh lagi terjadi.
Sinergitas dalam membangun bangsa tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kelompok saja tapi harus bersama-sama seluruh komponen masyarakat.(Shd)

Editor : SRS

Facebook Comments

Mentri Agama menghadiri Doa Bersama dan meresmikan Pondok Pesantren Abdulrahman Wahid Soko Tunggal

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Minggu(12/07/2020)
Menteri Agama Fachrul Razi menghadiri Silaturahmi, Halal Bihalal dan Doa Bersama di Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Jakarta Timur. Selain para santri dan kyai, hadir juga para guru agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. 
Mentri agama, Fachrul Razi mengapresiasi kehadiran tokoh lintas agama pada kegiatan tersebut. Di hadapan para santri yang diasuh Gus Nuril Arufin, Menag berpesan tentang wawasan kebangsaan dan kebiasaan kehidupan baru di tengan pandemi.
Menag mengapresiasi kiprah pesantren sebagai tempat para santri meningkatkan iman dan takwa sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan. 
“Umat Islam adalah umat terbesar di bangsa ini. Kalau umat Islam tertinggal, pasti bangsa ini tertinggal. Kalau umat Islam ini maju, pasti bangsa ini maju,” ujar Menag di Jakarta Timur, Minggu (12/07). 
“Kalau umat Islam berpecah-pecah pasti bangsa ini berpecah-pecah. Kalau umat Islam teguh, kompak dan berdedikasi tinggi, punya toleransi tinggi, maka akan membawa cita-cita kita bersama menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” lanjutnya.
Di tengah pandemi Covid-19, Menag berpesan agar para santri dalam menjalani pembelajarannya tetap menerapkan protokol kesehatan.
“Saya harapkan pembelajaran di pesantren dapat berjalan cukup baik dengan tetap memperhatikan ketentuan ketentuan  protokol kesehatan,” tuturnya.
Menurutnya, para ahli memperkirakan pandemi Covid akan berlangsung hingga vaksin penangkalnya ditemukan. Karenanya, Indonesia dan dunia berada dalam peradaban baru, di mana kehidupan berlangsung dengan pelaksanaan protokol kesehatan secara ketat. Sehingga, kegiatan tetap berjalan, baik bekerja, belajar, beribadah dan lainnua, tapi tetap berupaya terhindar dari penyakit.
Ada tiga hal, kata Menag, yang perlu dilakukan. Pertama, berupaya atau ijtihad membasmi Covid dan mencegah penyebaran. Kedua, terus berdoa, memohon kepada Allah agar pandemi segera berlalu. Dan ketiga, tawakal.
Peradaban baru ini sebenarnya bukan hal asing buat umat Islam. Peradaban baru ini menghendaki kebersihan diri dan cuci tangan. Di tengah wabah, umat diimbau tidak kemana-mana dan jaga jarak.
“Itu semua buat umat Islam biasa saja. Islam mengatakan kebersihan itu sebagian dari iman. Mandi memang sangat dianjurkan sebelum salat, apalagi salat Jumat,” jelasnya. 
“Jadi kalau masalah kebersihan badan, bagi umat Islam tidak aneh, memang sudah bagian dari kehidupan kita. Paling tidak kita diwajibkan lima kali sehari mengambil wudhu,” lanjutnya.
Menag menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperhatikan pesantren dan madrasah.
Tidak hanya Kementerian Agama, jajaran kabinet yang dipimpin Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma’ruf Amin sangat perhatian pada pembinaan pesantren dan madrasah. Pemberdayaan lembaga pendidikan agama dan keagamaan ini sering disinggung dan dibahas dalam sidang kabinet.  
“Untuk penanganan dampak Covid-19, Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar 2,6 T untuk membantu pesantren, madrasah lembaga pendidikan keagamaan lain. Angka itu mungkin belum bisa memuaskan semua. Tapi, angka itu yang terbesar selama ini. Biasanya paling 500 milyar anggaran tiap tahunnya. Nanti 2,6 T akan ditata, mudah mudahan bisa memberikan manfaat bagi kita semua,” tandasnya.

Selanjutnya dalam acara tersebut Menteri Agama Fachrul Razi berkenan meresmikan Pondok Pesantren Abdulrahman Wahid Soko Tunggal,dengan menandatangani prasasti.(MF)

Editor : SRS

 

Facebook Comments

GONJANG GANJING ISSU “RESHUFLE” KABINET

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Jumat (10/07/2020), Jamaah Pengajian Kebangsaan (JPK) dan Forum Diskusi Kebangsan (FDK) yang diketuai Gus Sholeh berhasil menggelar diskusi webinar dengan tema, “Gonjang-ganjing Isu Reshuffle Kabinet Jokowi”.

Saat menyampaikan prakata awal Gus Sholeh menyayangkan kinerja para menteri kabinet Jokowi pada periode ini. Secara gamblang tokoh muda NU ini menyebut bahwa lebih baik kabinet Jokowi yang pertama dari pada kabinet saat ini.

“Kita cukup respek dengan Presiden Jokowi, yang selalu bekerja maksimal untuk kemajuan bangsa Indonesia, akan tetapi para menteri-menterinya banyak yang tidak bisa mengikuti ritme kinerja Presiden Jokowi alias lelet, kalau para menteri yang tidak mampu bekerja dengan pola kerja Presiden Jokowi, sebaiknya mundur saja atau di reshuffle masih banyak putra-putri terbaik di negeri ini, banyak pakar-pakar yang mumpuni” kata Gus Sholeh.

Dia pun berharap Presiden Jokowi mendengarkan suara publik untuk mengganti menteri-menteri yang kurang kompeten dan buruk kinerjanya.

Disisi lain pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Lisman Manurung berpendapat tata kelola demokratis (Democratic Governance) secara signifikan mengalami transformasi oleh efek sosio politik dan ekonomi yang ditimbulkan oleh covid 19.

Misalnya menguatnya Global Public Policy yakni guidance dari WHO atas 215 negara dalam masing masing public policy making.

“Isu dominan yang menjadi pergunjingan baru adalah Digital Governance,” jelas peraih doktor di salah satu universitas di Australia ini.

Sedangkan Pengamat Intelejen Stanislaus Riyanta menyebut reshuffle kabinet adalah hal yang biasa dan menjadi kewenangan penuh dari Presiden.

Namun kata dia, ada beberapa hal yang memungkinkan terjadi reshuffle seperti kinerja yang tidak sesuai dengan target, adanya halangan dari menteri sehingga harus diganti seperti terkena masalah hukum, atau adanya tekanan politik.

“Pada periode pertama Joko Widodo, 2014-2019, tercatat melakukan Reshuffle sebanyak empat kali dan enam menteri mundur. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pemerintahan Joko Widodo, reshuffle adalah hal yang biasa,” jelas Riyanta.

Saat ini jelas Riyanta, tekanan terhadap pemerintah Joko Widodo cukup tinggi, karena adanya pandemi Covid-19 dan tekanan politik serta publik yang menyoroti kinerja kabinet. Presiden Joko Widodo sudah mengungkapkan kemarahannya terhadap kabinet bahkan dengan ancaman pencopotan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sinyal reshuffle sudah semakin dekat walaupun beberapa saat kemudian Mensekneg Pratikno menyatakan bahwa kinerja menteri sudah membaik.

Jika melihat situasi saat ini maka momentum yang tepat untuk melakukan reshuffle kabinet adalah menjelang atau sesaat setalah Pilkada usia. Harapannya adalah Presiden Joko Widodo jika perlu melakukan reshuffle adalah dengan memperbanyak profesional dibanding politikus, sehingga kinerja kabinet lebih baik lagi.

Sementara, Direktur Eksekurif Political and Public Policy Studies (P3S) mempertanyakan Apakah ini sandiwara karena ada bacaan-bacaan yang harusnya nggak perlu. Ini seharusnya presiden melihat kebutuhan publik, bukan sekadar keinginan.

“Jangan-jangan ini mirip telenovela Maria Mercedes, Kassandra atau Si Muka Kotor, publik lagi wait and see soal pernyataan presiden berkaitan dengan reshuffle kabinet, kalau tidak dilakukan maka kepercayaan publik akan hilang distrust and disintegrity lantaran bulan febuari juga sempat behembus kabar pergantian menteri,” jelas peneliti politik Amerika ini.

Selanjutnya kata Jerry, mimpi bisa, tapi actionnya mana?

Harusnya pak Jokowi ucap dia, melihat mana menteri-menteri yang loyo, lesu, lemah dan banyak bikin gaduh di fire atau copot saja.

“Jangan terlalu banyak asumsi tapi to the point saja. Bilang gagal kalau gagal jangan memuji yang kinerjanya buruk. Harusnya, dibentuklah tim ahli di belakang Jokowi (untuk bahas reshuffle) seperti era mendiang Gus Dur dan Presiden ke-6 SBY.

Sebetulnya tegasnya, kabinet sekarang bukan kabinet yang menyenangkan kuping. Bagaimana dengan tiga dapur di Istana Kepresiden? Ini kan sebenarnya kecekatan presiden melihat. Di partai-partai pendukung Jokowi banyak, kok kandidat menteri yang hebat untuk gabung di kabinet.

“Kalau tidak ada reshuffle, kepercayaan publik akan menurun. Perlu reshuffle,” katanya.

Begitu pula dengan pengamat politik Wempy Hadir yang lebih menekankan dramaturgi reshuffle Ini menggambarkan siapa di belakang reshuffel.

“Secara historis, Jokowi sebenarnya sudah pernah lakukan. Harusnya nggak ada masalah lagi soal kebijakan tersebut. Soal marah-marah saya pikir hanya untuk mendobrak untuk dorong kinerja dan gaya komunikasi istana sebelumnya. Soal reshufle, ini tergantung rating approval. hasil survey menunjukkan RA itu di bawah 55 persen. Ini sangat rendah sekali. Kalau ini basisnya, ini sudah sepatutnya diganti,” terangnya.

Masalahnya, di sini ada kompromi politik. Memang agak sulit bicara koalisi. 1.Kesamaan ideologi, 2.Kepentingan. Apa visi misi sama.

“Saya kira nggak ada persoalan kalau sama. Masalahnya mereka juga punya keinginan politik untuk 2024 meningkatkan elektoral. Kita tidak bisa berharap kalau partai hanya mengirim orang terdekat, bukan terbaik,” kata Wempy.

Isu ini tidak terlepas dari konstelasi perpolitikan nasional. PAN dan PD lakukan pendekatan politik ke Jokowi. AHY menuju 2024.

Pegiat Medsos Rudi S Kamri dalam kesempatan ini mengajak agar pendukung Jokowi tetap tenang dan terus mendukung pemerintahan beliau lebih dari itu memberikan kesempatan pada Presiden.

Pegiat medsos ini yakin Jokowi tahu apa yang dibutuhkan publik.

“Jadi soal reshuffle kabinet, paling tidak Presiden memahami siapa yang layak ganti, biarlah kita menyerahkan pada keputusan Presiden,” tegas Rudi. (GS)

Editor : SRS

Facebook Comments

WEBINAR CEGAH RADIKALISME DITENGAH PANDEMI COVID19

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Jumat(19/06/2020) Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta Gelar Diskusi virtual Tentang cegah redikalisme ditengah Pandemi covid-19 di Jakarta.

Ditengah pendemi covid-19 Pemerintah dan masyarakat di sibukan untuk melawan virus yang mematikan, akan tetapi masih ada saja kelompok radikalisme yang memanfaatkan kesempatan untuk menghasut masyarakat untuk melakukan gerakan anti Pancasila dan NKRI. Menangkap isu tersebut Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta Gelar Diskusi virtual dengan tema cegah redikalisme ditengah Pandemi covid-19 di Jakarta.
Dalam Diskusi virtual tersebut mengundang narasumber Gus Sholeh Mz. M.Ag (Pendakwah dan pengamat sosial budaya) dan Ustad Imam Mustofa, M.Si. (Penulis Buku Radikalisme) dan dimoderatori oleh Wulandari aktifis Jakarta serta diikuti dari berbagai kalangan seperti mahasiswa dan masyarakat umum (19/6)

Gus sholeh dalam diskusi virtual ini, menyampaikan kelompok radikalisme ditengah pandemi ini untuk menyebarkan radikalisme, yakni dengan membuat berbagai ragam hoax. mereka mencuci otak masyarakat untuk merubah pemahaman masyarakat.
Kelompok-kelompok radikalisme aktif di media sosial, karena dengan kemajuan teknologi saat ini masyarakat juga akan mencari apa yang ingin mereka ketahui dari internet. maka kita harus meluruskan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai pancasila dan nkri agar masyarakat tidak terdoktrin oleh radikalisme.

Pandangan lain Imam mustofa salah satu penulis buku radikaliseme menyampaikan bahwasannya, penyebaran radikalisme melaui dua cara yaitu pertama adalah media pendidikan, mereka akan ‎menanamkan doktrin-doktrin yang menjauhkan nilai-nilai kecintaan anak-‎anak terhadap ideologi Pancasila dan NKRI. dan yang kedua adalah ‎media sosial, kelompok radikalisme sangat aktif di media sosial. mereka akan mudah ‎mendoktrin masyarakat menggunakan media sosial.
Untuk mencegah penyebaran radikalisme ini kita harus menanamkan ‎nilai-nilai moral pancasila, adat, dan budaya kepada seluruh elemen masyarakat. Tegasnya
Respon yang aktif dari peserta, salah satunya Farid dengan melontarkan pertanyaan tentang mengenai pengaruh penyebaran radikalisme oleh satu partai. Gus Sholeh pun merespon baik pertanyaan oleh Farid, penyebaran radikalisme sebenarnya bukan partai politiknya yang menjadi ancaman. tetapi oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan politik tersebutlah yang akan menjadi ancaman.dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan politik untuk kepentingan kelompok radikalisme. Seharusnya kegiatan apapun yang dilakukan di negara Indonesia ini baik politik ataupapun ekonomi harus berdasarkan dengan nilai-nilai pancasila yang telah menjadi kesepakatan bersama bangsa Indonesia. Tutupnya (GS)
Editor : srs

Facebook Comments

Halal Bihalal Memperkuat Kaderisasi NU dikalangan masyarakat di Kabupaten Bogor

0

PatriotSatu.com-Bogor,Rabu(27/05/2020), Pengurus Ranting NU Parung yang diinisiasi oleh Ust.Maksum mengadakan halal bihalal antar pengurus NU dengan para simpatisan area Bogor Utara yang diadakan di rumah satkaryon Banser NU Kang Sanadi.
Kegiatan lailatul ijtima dan pengkaderan PKPNU bertujuan untuk memperkuat NU di akar rumput.

Kegiatan tersebut bertujuan untk mempererat silaturrahim sesama kader NU dan pengurus NU, hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus Mwc Parung(Ust.Maksum dkk),MWC Ciseeng(Ust.Ghozawi dkk),Ansor dan Banser Gunung Sindur. Sebagai pembicara Kyai Ahmad Suhadi, berpesan bahwa saat ini NU sebagai jamiyah Diniyah tidak lagi menawarkan NU melalui pendekatan kultural semata-mata seperti istigotsah,manaqiban,tahlilan dan sebagainya,tetapi saat ini NU juga sebagai jamiyah KeUlamaan sebagaimana spirit para muasis dalam realita saat ini utk mengisi
عارفا بزمانه , adalah mulai melakukan pengenalan bagaimana NU berharokah sesuai manhaj fikroh annahdliyah dan manhaj siyasah annahdliyah, yang memiliki ciri tersendiri dalam merawat ajaran ahlussunah waljamaah dan merawat NKRI dengan pendekatan dakwah yang ramah dan sejuk.

Kyai Abdullah Shomdani selaku instruktur PKPNU yang tinggal di kecamatan Parung berpesan untuk keluar dari masalah dan problem baik umat maupun bangsa agar tidak lupa membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
“Dengan sholawat walaupun satu kali mudah-mudahan Allah akan melepaskan kita semua dari wabah pandemik covid 19,” ujar K.Shomdani.

Selesai acara kegiatan tersebut para kyai dan kader se Bogor utara terjadi diskusi cukup serius bahkan terjadi perdebatan ala NU yang selalu dibumbui jok-jok guyonan ala NU,walau serius dengan urat leher menegang tapi tidak lupa canda dan tawa yang menjadi khas NU,keakraban di NU sangat terasa dengan saling menghargai perbedaan pemikiran. (Shdi)

Editor : Srs

Facebook Comments

Fanatisme Membabi Buta Mengalahkan Nilai Kemanusiaan

0

Ditengah kondisi wabah pandemik covid 19 yang belum kunjung reda, masyarakat dan warga terfokus perhatiannya kepada penanggulangan wabah corona, baik dalam bentuk pembagian masker, penyemprotan disinfektan sampai kepada physical distancing dan social distancing.

Aneh, jika dalam kondisi seperti ini masih ada saja pihak-pihak yang mengatasnamakan agama untuk mengintimidasi pihak lain agar tidak melakukan kegiatan ibadah.
Hingga masyarakat minoritas kebingungan mau ke gereja, vihara, kuil atau pura dilarang karena harus ikut kebijakan pemerintah yaitu sosial distancing sementara itu pula ibadah di rumah masing-masing dilarang dengan alasan bukan tempat ibadah.
Memang sebenarnya negara ini milik satu agama atau banyak agama sih? Kan yang penting masih berTuhan, itu yang pasti dikeluhkan oleh pihak yg selalu dipersalahkan.

Ahmad Suhadi selaku Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya melihat kasus-kasus intoleransi yang terjadi ditengah wabah covid 19 saat ini karena beberapa faktor:
1. Pihak yang masih melakukan cara-cara intoleransi karena jiwa kemanusiaan yang telah hilang yang seharusnya bagaimana membantu orang lain untuk terlepas wabah corona dan bekerjasama melawan covid 19 ini malah digunaan menyerang keyakinan kelompok lain.
2. Pihak yang masih melakukan perbuatan intoleransi karena telah tertanam doktrin keagamaan yang salah atau fanatisme buta yang tidak dilandasi ilmu agama dan hukum kenegaraan.
3. Mencari peluang populatitas dengan menikung jalan lain.

Sebagai negara yang beradab dengan landasan agama,Tuhan YME telah mengajarkan dlm Al-Quran ´´waman adzlamu miman mana´a masajidallahi ayyudzkaro fiihasmuhu…´´artinya : kedzoliman yg paling besar adalah menghalangi orang lain utk menyebut nama Tuhannya…´´.

dalil agama diatas selaras dengan UUD 45 pasal 29 ayat 1-2, yaitu negara menjamin setiap warga utk memilih keyakinan dan kepercayaan masing-masing dan menjalankan kepercayaannya itu.

Penulis berharap, segera hentikan setiap perbuatan-perbuatan dgn atas nama agama utk menghalangi agama lain dalam menjalankan keyakinannya.

Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi
Ketua Forum Komunikasi Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments

Kenakalan Berpikir Masyarakat yang Terpapar virus politik Identitas di Masa Covid 19

0

Dengan Pendekatan Keagamaan menurut Madzhab Imam al-Syafi’i yang mayoritas dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia bahkan se Asia Tenggar,bahwa Imam Syafei menjelaskan :

َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, h. 244)

Sebagai seorang muslim yang moderat, hal yang elok dalam menyikapi wabah Covid-19 saat ini seharusnya merujuk pada seruan pemerintah sebagai kepanjangan dari Ulil Amri, MUI sebagai wadah Fuqaha (yurisprudence hukum Islam)dalam merumuskan fatwa-fatwa agama dan Dokter merupakan pihak yang paling mengetahui cara mencegah penyakit dst, tentunya dengan tetap melihat status zona wilayahnya. Bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu orang-orang awam apalagi membantah fatwa MUI yang jelas-jelas berdampak pada kemaslahatan bersama jika dilaksanakan. Kalaulah mereka dengan berbagai latar belakang keilmuan yang mempuni saja tidak ditaati juga, terus siapa lagi yang mau ditaati di negeri ini ?

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi saat ini,baik di negara kita maupun belahan dunia lainnya dari mulai kasus pertarungan politik, ekonomi,budaya bahkan pergulatan ideologi keagamaan.Semua itu merupakan rangkaian yg menjadi sabab dari musabab yg menghilangkan kestabilan alam hingga terjadilah beragam kasus musibah yang silih berganti,Allah Tuhan yang memiliki Qudrot dan Irodat tidak memandang sebanyak apa ritual yg dilakukan hambanya,andaikan hambanya satupun tak lagi menyemahnya derajat Ketuhanan yg dimiliki Allah tidak akan menurun dan andaikan semua pada menyembahnya pun Allah sbg Tuhan tak akan bertambah derajatnya.Karena Allah adalah pemiliki kesempurnaan.

Esensi ketuhanan tak bisa dihalangi olh adanya sabab sesuatu,akan tetapi manusia sbg makhluk ciptaannya tentunya harus mengikuti tata nilai yg menjadi sunatullah(hukum alam) atw hukum causality(sebab akibat) maka dari itu dg adanya pandemik covid 19 ini utk dapat tercegah bukan malah menyalahkan Allah jk nnti manusia yg tdk lagi mengikuti aturan sabab akibat tsb terkena penyakit tersebut.

Allah memerintahkan kepada manusia harus ada dijalan sabab akibat walaupun hakekatnya taqdir baik maupun buruk itu telah Allah ciptakan.
ان تأثر الممکنات ایجادا واعداما

Pertanyaannya :jika kita sbg manusia tdk mau mengikuti seruan pemerintah,dg alasan percaya dan yakin saja kpd Allah dan kenapa harus mengambat pelaksanaan ibadah?..pertanyaan tersebut harus dijawab sendiri,lebih bersih mana Tauhid anda dg Syekh Abdul Qodir Aljailani dan para auliya lainnya,lebih tinggi mana keilmuan anda dg ulama selevel Imam syafei??
Imam syafei sj melarang kita utk tdk meninggalkan sabab akibat disamping keyakinan segala apapun terjadi krn irodah Allah..
Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi (Dosen STAI Ashoba)
Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments

Relawan SAJOJO Banten bersama BRABUS Peduli COVID 19

0

PatriotSatu.com – Banten,Selasa(07/04/2020), Brabus Indonesia By Alron Group bekerjasama dengan Relawan SAJOJO Banten (Sahabat Joeang Jokowi) dan We Love NKRI Community mengadakan acara “Peduli Covid19” dengan membagikan masker dan sembako yang berisi beras, minyak goreng, Indomie, gula, telor dan air mineral dibagikan kepada 100 fakir miskin di desa Panimbang Pandeglang Banten Selatan.

Disaat kondisi sulit seperti ini, karena adanya wabah penularan Covid-19 yang telah melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, maka Pemerintah melakukan kebijakan Social Distance untuk meminimalisir penyebarannya dan masyarakat tidak diperbolehkan berkumpul-kumpul dengan orang banyak, termasuk ibadah di masjid atau tempat ibadah umat lainnya dan juga tidak diperbolehkan keluar rumah apabila tidak urgensi sekali maka otomatis juga tidak bisa bekerja diluar rumah.

Bagi orang yang diberikan kelebihan oleh Allah masih bisa bertahan karena memiliki sejumlah uang di tabungan, tapi bagi warga miskin desa yang hidup sangat pas-pasan, kerja hari ini hanya cukup dimakan hari ini juga bahkan sering kurang, maka tidak memiliki uang lebih untuk ditabungkan.
Memang ada janji dari Pemerintah untuk membantu warga miskin tapi jumlahnya tidak seberapa dan sampai detik ini banyak warga miskin yang belum menerimanya mungkin karena masih dalam proses administrasi atau hal lainnya.

Maka kepedulian pengusaha atau orang yang diberikan kelebihan oleh Allah Tuhan YME pada saat kondisi seperti ini sangat berarti sekali bagi orang-orang miskin, sehingga dapat sedikit meringankan bebannya.

Semoga acara aksi nyata Peduli Covid19 kepada sesama seperti ini dapat dilakukan oleh para pengusaha lainnya atau orang-orang kaya kepada masyarakat prasejahtera di seantero Nusantara.

Akhirnya, hanya kepada Allah Tuhan YME kita berharap semoga badai Corona segera berlalu dari bumi Pertiwi Indonesia, Amin.
[GSM]

Editor : SRS

Facebook Comments

Gus Sholeh Mz, Koordinator SAJOJO Banten, menghimbau untuk melaksanakan Sholat Ghaib

0

PatriotSatu.com-Banten,Kamis(26/03/2020),
Gus Sholeh Mz, Koordinator #01SAJOJO Banten, menghimbau kepada Muslim Muslimah di Indonesia, untuk melaksanakan sholat ghaib dirumahnya masing-masing untuk Almarhumah Ibu Hj. Sudjiatmi Notomiharjo Ibunda Presiden Jokowi.

TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN PUTRAMU BAGI BANGSA INI.
Selamat Jalan Ibu Yang Mulia Ibunda Presiden Jokowi, Ibu Sudjiatmi Notomihardjo

Kita kehilangan seorang “IBU BANGSA” yang mulia. Dia mulia, karena dia bagai samudra yang mampu dan rela menampung selaksa sampah hinaan, makian, fitnah terhadap putra yang dikasihinya. Bahkan ketika fitnah dan hinaan itu menyambar dirinya, dia hanya tersenyum tipis dan hening. Dia hening, masuk dalam doa-doanya.
Itu sebabnya sang putra tetap tegak bagai batu karang.

Selamat jalan ibu..
Doa terbaik kami untukmu
Hormat terdalam kami untukmu

Terima kasih telah memberikan putramu bagi bangsa ini.

اِنّالِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاِجِعُوْن
Kami Keluarga Besar Relawan
#SAJOJO
#SahabatJoeangJokowi
Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ibu Hj. Sudjiatmi Notomiharjo Ibunda Presiden Jokowi, semoga Husnul khatimah
أَمِينِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
لها الفاتحة.
(GS)

Editor : mfs

Facebook Comments

Corona Antara Kekalutan dan Kepercayaan Diri

0

PatriotSatu.com-Bogor,Jawa Barat, Rabu (25/03/2020) Dengan mewabahnya virus Covid-19 yang sudah banyak memakan korban di seluruh penjuru dunia, tak sedikit membuat kecemasan baik dikalangan pemerintahan maupun masyarakat umum.
Dalam kondisi belum meredanya virus Covid-19 memang ada beberapa kalangan yang memanfaatkan kondisi ini dijadikan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan, dari mulai menjual masker gila-gilaan hingga penebaran hoaks yang kian menjadi-jadi.

Bahkan menurut Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya, Kyai Suhadi, saat ini semua kalangan mendadak jadi dokter yang seolah-olah lebih faham menangani virus Covid-19 bahkan sangat faham tentang virus Corona tsb.
Kyai Suhadi menyatakan, ” Juga konsen sebagai pemerhati pendidikan keagamaan, menyerukan kepada semua kalangan baik akademisi, profesional dan para agamawan juga kepada masyarakat luas untuk selalu menjaga kebersihan diri dan hindari kecemasan yang memuat imunitas tubuh berkurang sehingga kondisi kejiwaan yg tidak stabil mudah diserang penyakit dan dikhawatirkan akan mudah terinfeksi virus Covid-19.

Kyai Suhadi, juga menghimbau agar masyarakat terus berikhtiar dan berusaha untuk menghindari kegiatan berkumpul atau mengurangi aktifitas di luar rumah agar memutus mata rantai penyebaran virus ini. Agar tidak terjangkiti virus corona-19 diharapkan diam di rumah dan tidak mengunjungi keramaian sesuai anjuran pemerintah adalah hal yg harus dipatuhi. Dan bagi yang sudah terkena gejala harus segera mendapat penanganan yang serius.

Di tempat tepisah, Hadi Wibowo selaku Ketua Komisariat Patriot Garuda Nusantara Bogor Raya menghimbau kepada segenap masyarakat agar tidak terlalu panik menyikapi wabah virus menular seperti virus corona-19 tsb.
Menurutnya, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal serta selalu menyediakan tissue basah atau hand sanitizer penting dlm menjaga kebersihan diri. Hindari kontak dg orang lain minimal satu meter begitupula menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas di malam hari agar tubuh tetap fit.

Imunitas tubuh melemah karena pikiran dan pola makan yg tidak stabil akan membuat virus Covid-19 dengan mudah menyerang dan menginfeksi kita, maka menjaga stabilitas pikiran dengan rileks menyikapi wabah corona sambil mengikuti seruan pemerintah adalah pencegahan dini yg lebih efektif, menurut Asep Mulyadi yang baru saja didaulat kembali sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Kemang, Bogor
Kita tentunya harus mendukung dan membantu para tenaga medis baik dengan doa atau siap menjadi fasilitator bagi siapapun yg ingin membantu para dokter dan tenaga medis utk menangani pasien yang positif terkena wabah virus Covid-19.

Sugeng Teguh Santoso, Ketua Yayasan Satu Keadilan ikut menimpali bencana pandemi saat ini,”Virus Covid 19 ini bukan hanya tugas dokter dan tim medis semata tapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dalam memerangi wabah tersebut. Ini sudah menjadi masalah kita bersama, masalah bangsa dan negara. (SH)

Editor : mfc

Facebook Comments