Beranda blog

Stop Hoax dan Provokasi Undang Undang Cipta Kerja, Wujudkan Indonesia Damai

0

PatriotSatu.com-Banten, Jumat (16/10/2020), AGAMA CINTA, Indonesia dalam beberapa hari ini tengah diganggu dengan keberadaan berita bohong (hoax) seputar UU Cipta Kerja serta ujaran kebencian (hate speech) dan provokasi yang menyebar viral diberbagai media sosial.
Ironisnya, hoax dan hate speech sulit dibendung di tengah kemajuan teknologi informasi.

Hoax UU Cipta Kerja ini malah dimanfaatkan kelompok radikal dan kelompok yang anti terhadap pemerintahan Presiden Jokowi untuk melakukan provokasi yang bertujuan untuk merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kelompok radikal sangat pintar memanfaatkan hoax untuk melakukan provokasi. Ini bahaya karena kelompok radikal ingin memecah belah NKRI bersinergi dengan para pembenci Jokowi. Untuk itu, kita harus bisa memperkuat diri dengan saling berbagi, saling menyantuni, saling mengajarkan yang baik. Juga jangan saling menghujat, jangan mudah percaya terhadap sumber berita yang belum tentu benar agar keberagaman yang ada di dalam bangsa ini tidak mudah terpecah belah,” ujar Gus Sholeh Marzuki Koordinator Agama Cinta.

Menurutnya, keberadaan hoax dan hate speech tidak lepas dari kultur masyarakat Indonesia kurang mau membaca dengan teliti dahulu sebelum shere, maka berita-berita yang beredar di media sosial susah dibedakan mana berita yang benar dan mana hoax, sehingga masyarakat kita banyak sudah yang tidak percaya lagi mana berita benar dan tidak. Itu terjadi karena terlalu seringnya berita hoax di media dan hate speech beredar di media sosial, yang akhirnya mudah terprovokasi.
Maka dari itu harus ada lembaga, komunitas atau golongan yang benar-benar bisa menjadi panutan bagi masyarakat dalam memerangi hoax dan hate speech agar tidak mudah terprovokasi.

“Lembaga agama, seharusnya bisa menjadi peranan penting dalam memerangi hoax dan hate speech, tapi akhir-akhir ini justru kenyataan terbalik, karena faktanya masih ada lembaga agama yang kadang juga menciptakan sebagian dakwah-dakwah yang memprovokasi. Ini sangat naif sekali,” ungkap Gus Sholeh.
Menurutnya, lembaga semacam itu jelas tidak mendidik dan tak mencerdaskan generasi bangsa.
Sebab, lembaga seperti itu tidak bisa membuat karakter orang menjadi jujur, santun, dan saling menghormati dalam bingkai toleransi beragama.

“Kalau hal semacam ini dibiarkan maka nanti yang terbina justru musuh. Padahal semua makhluk Tuhan itu saudara kita semua. Marilah saling menghormati, jangan menghujat satu sama lain,” imbaunya.
Untuk merealisasikan itu, Gus Sholeh dengan komunitas Agama Cinta mengajak seluruh manusia untuk saling berbagai, menyantuni, mengajarkan yang baik, dan tidak mudah percaya dengan sumber berita yang belum tentu benar.

Langkah ini dinilai bisa menjadi modal untuk menghilangkan atau meminimalisasi sikap dan perilaku menciptakan kebohongan.
Pemerintah juga diharapkan bisa membuat langkah tepat untuk meredam hoax dan hate speech ini.Caranya, pemerintah bisa menjadi sumber informasiyang benar.
Artinya pemerintah, baik pejabat atau lembaga, tidak boleh mengeluarkan pernyataan yang tak benar, atau pernyataan yang menimbulkan polemik yang mudah digoreng polemik tersebut yang akhirnya masyarakat terpovokasi dan terjadinya demo turun kejalan dan bila hebatnya hoax dan provokasi dari para provokator, akhirnya terjadi aksi anarkisme dan vandalisme.

Untuk lebih detailnya, silahkan mengikuti webinar kebangsaan lintas iman, yang dilaksanakan oleh AGAMA CINTA pada edisi 9, bertemakan INDONESIA DAMAI TANPA HOAX dan PROVOKASI.
Acara akan diselenggarakan :
Waktu : Sabtu,17 Oktober 2020
Narasumber : – Gus Sholeh Mz (Koordinator Agama Cinta)
~ Habib Ja’far Shodiq bin Yahya (Sufi Musafir)
~ Dr Esteria Manurung, M.Pd (Penyuluh Agama Kristen Kementerian
Agama RI)
~ Ws. Rudi GunawijayaKetua MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghuchu
Indonesia)
– KH Muchlason Jalaluddin (Rois Syuriah PCINU Mesir)
~ Dr. Made Wilantara, M.Si (Praktisi Pemuda Buddhis Berkearifan
Lokal)
~ Ida Made Sugita, S.Ag., M.Fil.H (Rohaniwan Hindu, Kementerian
Agama, Dekorwil Pusat Koordinasi Hindu Indonesia Jabodebek)
~ Michael Seno Setiawan (Komunitas Katholik,Sekjen SANTALA (Barisan
Pencinta Pancasila)
~ Ruzi Sutiawan (Komunitas Goebok Indonesia) sebagai Moderator
[GSM]
Editor : Mar139

Facebook Comments

Stop Politisasi Rumah Ibadah Dalam Pelaksanaan PILKADA Serentak 2020

0

PatriotSatu.com – Banten, Sabtu (03/10/2020), Jelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2020, terindikasi akan bermunculan berbagai kepentingan yang masuk ke berbagai elemen, bahkan tanpa terkecuali termasuk tempat ibadah.

Menyikapi hal tersebut, Koordinator Agama Cinta Gus Sholeh Marzuki meminta para Tokoh Lintas Agama menjaga tempat ibadah agar tidak disusupi kelompok tertentu yang memiliki agenda politik praktis.

“Para Tokoh Lintas Agama diimbau agar rumah ibadah jangan dikotori oleh oknum-oknum yang mempunyai kepentingan sesaat dan hanya mencari suara dengan menguasai rumah ibadah. Janganlah rumah ibadah dijadikan tempat mendulang suara yang ujung-ujungnya menjelekkan kelompok sana kelompok sini,” tegas Gus Sholeh Marzuki.

Gus Sholeh juga menyayangkan jika rumah ibadah yang merupakan tempat mulia itu disalah fungsikan hanya karena kepentingan politik Pilkada sesaat dan meminta kepada para Tokoh Lintas Agama serta para jemaahnya untuk tidak menggunakan rumah ibadah sebagai ajang kepentingan politik praktis, partisan, dan jual beli suara.

“Rumah Ibadah jangan digunakan kepentingan politik praktis dan partisan. Mari belajar dewasa, bersikap patriot hilangkan ego. Ketika politik dalam Pilkada Serentak 2020 berjalan maka masuk ke rumah ibadah dan tenangkan hatimu. Ke rumah ibadah itu mau ketemu Tuhan YME apa ketemu calon Gubernur atau calon Bupati atau atau Calon Walikota ?” ujar Gus Sholeh.

Gus Sholeh juga mengimbau masyarakat secara kompak menyerukan untuk mencegah oknum yang memfungsikan rumah ibadah dari unsur politik praktis dan mengutamakan fungsi rumah ibadah untuk tempat beribadah kepada Tuhan YME. Menjadikan rumah ibadah sebagai sarana untuk mempersatukan umat, bukan dijadikan sarana memecah belah umat dan memperuncing perbedaan.

“Sudah saatnya menjadikan rumah ibadah sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadikan mimbar-mimbar rumah ibadah sebagai media untuk menyampaikan dakwah atau ajakan menjalankan ajaran agama secara sejuk dan damai, menerima perbedaan dan saling menjunjung tinggi toleransi, bukan caci maki, ujaran kebencian, dan ajakan permusuhan,” pungkasnya.

Selengkapnya silahkan ikuti Webinar Lintas Iman, dilaksanakan oleh komunitas Agama Cinta edisi ke 7, dengan tema: “STOP POLITISASI RUMAH IBADAH DALAM PELAKSANAAN PILKADA SERENTAK 2020”, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020, dengan narasumber sebagai berikut:
Gus Sholeh Mz
Koordinator Agama Cinta
Romo Beny Susetyo
Stafsus BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila)
Romo Asun
Wasekjen WALUBI
(Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
Ida Made Sugita, S.Ag., M.Fil.H
Rohaniwan Hindu – Kementerian Agama
Sudarto (Toto)
Pemerhati Sosial Budaya & Aktivis Toleransi
Ws Sofyan Jimmy Yosadi, SH
Dewan Rohaniwan Pimpinan Pusat MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghuc Indonesia)
Bishop Darwis Manurung, M.Psi
Ketua Umum PGI Wil. Sumatera Utara
Dan sebagai Moderator
Muhardi Karijanto, SE, MM
DPP NINJA (Negeriku Indonesia Jaya)
Diakhiri dengan doa penutup oleh Habib Ja’far Shadiq bin Yahya
[GSM]

Editor : mf

Facebook Comments

Kerap Ujaran Kebencian, Gus Sholeh Dukung Warga Besuki Tolak Pendirian Pesantren Sugi Nur

0

PatriotSatu.com-Banten, Sabtu (15/08/2020), Ketua Jamaah Pengajian Kebangsaan (JPK), Gus Sholeh Marzuki ikut angkat suara perihal penolakan pendirian pesantren milik Sugi Nur oleh warga Besuki Situbondo Jawa Timur.

Gus Sholeh memastikan warga masyarakat khususnya Situbondo pada intinya baik Ulama Indonesia dan Nahdatul Ulama (NU) Indonesia mengapresiasi setiap pendirian pendidikan. Apalagi pendidikan agama Islam ataupun terlebih-lebih pesantren.

“Tapi kalau yang mendirikan adalah yayasan atau kelompoknya ustadz Sugi Nur yang punya ‘track record kontroversial’. Setiap ceramahnya kerap mencaci maki,menyampaikan ujaran kebencian terhadap pemimpin negeri ini. Sehingga menimbulkan pro dan kontra,” ungkap Gus Sholeh, saat dikonfirmasi.

Menurut Gus Sholeh, pernyataan Sugi Nur tersebut justru menyebabkan konflik horizontal. Maka dari itu, lanjut dia, sebagian daripada tokoh-tokoh di Situbondo melarang pendidikan pesantren tersebut. Apalagi, Situbondo yang merupakan daerah Tapal Kuda adalah basis utamanya NU, selain wilayah Jombang.

“Nanti kalau ada pesantren model bentukannya Nur Sugi yang intoleran dan menyampaikan ujaran kebencian kepada santrinya. Jadi kurang pas kader bentukan pesantren,” terangnya.

Makanya, dia sepakat dengan upaya penolakan warga langkah Sugi Nur sebagai upaya pencegahan sejak dini. Begitu tahu pesantrennya Ustadz yang mana sudah dikenal, kerap melakukan ujaran kebencian dan secara reaktif salah satu kelompok dari masyarakat di Situbondo yang notabenenya mayoritas NU langsung menolaknya.

“Dakwahnya bukannya mendinginkan justru menyampaikan ujaran kebencian dan intoleransi. Yang kita tolak bukan pesantren, yang kita tolak adalah yang mendirikan, yang senantiasa melakukan dakwah dengan ujaran kebencian ya dan intoleran,” pungkasnya.
[GSM]

editor :Srs

Facebook Comments

Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan

0

PatriotSatu.com-Bogor,Jawa Barat, Jum’at(17/07/2020),
Realitas masyarakat Bogor yang multikultur sebagai daerah penyangga ibu kota jakarta tak bisa dipungkiri memiliki corak keragaman dari mulai kondisi sosial,politik hingga faham keagamaan tapi hampir memiliki dominasi pemikiran yang ekstrim.

Selasa malam (14/07/2020) diadakan dialog perdana tentang kebangsaan yang mengawali kegiatan tersebut digelar di Rumah Singgah Kyai Ahmad Suhadi selaku ketua Barikade Gusdur Bogor Raya dan juga sebagi ketua Forum Kebangsaan Bgor Raya,beliau mendaulat sebagai pembicara yaitu Kyai Abdullah shomdani dari Tokoh NU kabupaten Bogor,Js.Eeng Havendi Tokoh Makin Khonghucu kabupaten Bogor,dan Maulana Basuki Ahmad Tokoh Ahmadiyah kabupaten Bogor.

Dialog Kebangsaan di Bogor walaupun boleh dibilang tidak terlalu seksi dalam konteks Bogor,lambat lebih baik taripada tidak. Ironisnya dari hasil survey stara Institute Bogor memiliki tingkat resistensi yang sangat tinggi dan nyaris tindak kekerasan atas nama agama kerap terjadi alih-alih Bogor berperingkat ke sepuluh intolarasi pada tingkat populasi Nasional, hal itu telah membawa alur pemikiran dan gerakan yg kontra produkrif dengan faham Moderat keagamaan yang dimiliki NU,padahal Bogor warganya mayoritas nahdliyin bahkan hingga 80 persen amaliyahnya amaliyah NU, Ujar suhadi.

Eeng Havendi dari Makin Khonghucu mengatakan,toleransi saat ini dirasakan menurun sementara dulu saat masih kecil eeng sedikit bernostalgia toleransi dirasa begitu indah,jika muslim berhari raya umat khonghucu membantu dan begitupun sebaliknya saat imlek tetangga muslim saling membantu dan saling kunjung.

Kenang eeng toleransi bukan untuk saling mempengaruhi umat lain untuk berpindah dari agama yg dianutnya ke keyakinan agama lain.
biarlah agama menjadi pilihan privasi seseorang kepada Tuhan.Tegas Eeng.

Sementara itu Maulana Basuki Ahmad dari Ahmadiyah yg didampuk sebagai pembicara dengan tema *”Sesama Organisasi Saling Bersinergi Selama Pakem Ideologi Kebangsaan Sama”*.Basuki menjelaskan interaksi antar penganut kepercayaan atau keagamaan bukan untuk mempengaruhi apalagi memaksa akan tetapi berinteraksi dengan umat lain yg beda hanyalah sebatas utk mengenal sehingga dengan perkenalan tersebut saling menguatkan dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan.Demikian menurut Basuki.

Kyai Shomdani yg mengetengahkan tema *”NU Sebagai Ormas Pengawal NKRI”* berujar, bagi pemahaman NU memaksa untuk sama dalam satu madzhab dan agama adalah penyimpangan agama itu sendiri.Bagaimana perjuangan NU yang dilakukan Kyai Hasyim Asyari,Kyai Wahab Hasbullah dan kyai-kyai Muasis NU saat-saat akan lahirnya NU 1926 telah diuji ketika protes keras Raja Arab Saudi bernama Raja Saud untuk menjadikan satu Madzhab saja yaitu faham Wahabi di Arab apalag membatasi jamaah haji yg datang hanya kaum wahabi saja,tampilnya muasis NU di Arab Saudi untuk memprotes kebijakan raja Saud bahwa dengan menjadikan satu aliran madzhab di jazirah Arab itu merupakan penyimpangan dan pelanggaran dari Hak Asasi yg mesti harus dihargai sebagai pilihan pada setiap individu umat manusia.Kata Shomdani mempertegas diskusi.

Diskusi ini rencananya akan terus dilanjutkan dengan harapan bisa memangun literasi yang lebih baik dari pemahaman yg selama ini terlalu tekstual dengan menyelaraskan tekstual kepada konteks kekinian sehingga faham Intoleran,ekstrim dan radikal di wilayah Bogor tidak boleh lagi terjadi.
Sinergitas dalam membangun bangsa tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kelompok saja tapi harus bersama-sama seluruh komponen masyarakat.(Shd)

Editor : SRS

Facebook Comments

Mentri Agama menghadiri Doa Bersama dan meresmikan Pondok Pesantren Abdulrahman Wahid Soko Tunggal

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Minggu(12/07/2020)
Menteri Agama Fachrul Razi menghadiri Silaturahmi, Halal Bihalal dan Doa Bersama di Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Jakarta Timur. Selain para santri dan kyai, hadir juga para guru agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. 
Mentri agama, Fachrul Razi mengapresiasi kehadiran tokoh lintas agama pada kegiatan tersebut. Di hadapan para santri yang diasuh Gus Nuril Arufin, Menag berpesan tentang wawasan kebangsaan dan kebiasaan kehidupan baru di tengan pandemi.
Menag mengapresiasi kiprah pesantren sebagai tempat para santri meningkatkan iman dan takwa sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan. 
“Umat Islam adalah umat terbesar di bangsa ini. Kalau umat Islam tertinggal, pasti bangsa ini tertinggal. Kalau umat Islam ini maju, pasti bangsa ini maju,” ujar Menag di Jakarta Timur, Minggu (12/07). 
“Kalau umat Islam berpecah-pecah pasti bangsa ini berpecah-pecah. Kalau umat Islam teguh, kompak dan berdedikasi tinggi, punya toleransi tinggi, maka akan membawa cita-cita kita bersama menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” lanjutnya.
Di tengah pandemi Covid-19, Menag berpesan agar para santri dalam menjalani pembelajarannya tetap menerapkan protokol kesehatan.
“Saya harapkan pembelajaran di pesantren dapat berjalan cukup baik dengan tetap memperhatikan ketentuan ketentuan  protokol kesehatan,” tuturnya.
Menurutnya, para ahli memperkirakan pandemi Covid akan berlangsung hingga vaksin penangkalnya ditemukan. Karenanya, Indonesia dan dunia berada dalam peradaban baru, di mana kehidupan berlangsung dengan pelaksanaan protokol kesehatan secara ketat. Sehingga, kegiatan tetap berjalan, baik bekerja, belajar, beribadah dan lainnua, tapi tetap berupaya terhindar dari penyakit.
Ada tiga hal, kata Menag, yang perlu dilakukan. Pertama, berupaya atau ijtihad membasmi Covid dan mencegah penyebaran. Kedua, terus berdoa, memohon kepada Allah agar pandemi segera berlalu. Dan ketiga, tawakal.
Peradaban baru ini sebenarnya bukan hal asing buat umat Islam. Peradaban baru ini menghendaki kebersihan diri dan cuci tangan. Di tengah wabah, umat diimbau tidak kemana-mana dan jaga jarak.
“Itu semua buat umat Islam biasa saja. Islam mengatakan kebersihan itu sebagian dari iman. Mandi memang sangat dianjurkan sebelum salat, apalagi salat Jumat,” jelasnya. 
“Jadi kalau masalah kebersihan badan, bagi umat Islam tidak aneh, memang sudah bagian dari kehidupan kita. Paling tidak kita diwajibkan lima kali sehari mengambil wudhu,” lanjutnya.
Menag menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperhatikan pesantren dan madrasah.
Tidak hanya Kementerian Agama, jajaran kabinet yang dipimpin Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma’ruf Amin sangat perhatian pada pembinaan pesantren dan madrasah. Pemberdayaan lembaga pendidikan agama dan keagamaan ini sering disinggung dan dibahas dalam sidang kabinet.  
“Untuk penanganan dampak Covid-19, Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar 2,6 T untuk membantu pesantren, madrasah lembaga pendidikan keagamaan lain. Angka itu mungkin belum bisa memuaskan semua. Tapi, angka itu yang terbesar selama ini. Biasanya paling 500 milyar anggaran tiap tahunnya. Nanti 2,6 T akan ditata, mudah mudahan bisa memberikan manfaat bagi kita semua,” tandasnya.

Selanjutnya dalam acara tersebut Menteri Agama Fachrul Razi berkenan meresmikan Pondok Pesantren Abdulrahman Wahid Soko Tunggal,dengan menandatangani prasasti.(MF)

Editor : SRS

 

Facebook Comments

GONJANG GANJING ISSU “RESHUFLE” KABINET

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Jumat (10/07/2020), Jamaah Pengajian Kebangsaan (JPK) dan Forum Diskusi Kebangsan (FDK) yang diketuai Gus Sholeh berhasil menggelar diskusi webinar dengan tema, “Gonjang-ganjing Isu Reshuffle Kabinet Jokowi”.

Saat menyampaikan prakata awal Gus Sholeh menyayangkan kinerja para menteri kabinet Jokowi pada periode ini. Secara gamblang tokoh muda NU ini menyebut bahwa lebih baik kabinet Jokowi yang pertama dari pada kabinet saat ini.

“Kita cukup respek dengan Presiden Jokowi, yang selalu bekerja maksimal untuk kemajuan bangsa Indonesia, akan tetapi para menteri-menterinya banyak yang tidak bisa mengikuti ritme kinerja Presiden Jokowi alias lelet, kalau para menteri yang tidak mampu bekerja dengan pola kerja Presiden Jokowi, sebaiknya mundur saja atau di reshuffle masih banyak putra-putri terbaik di negeri ini, banyak pakar-pakar yang mumpuni” kata Gus Sholeh.

Dia pun berharap Presiden Jokowi mendengarkan suara publik untuk mengganti menteri-menteri yang kurang kompeten dan buruk kinerjanya.

Disisi lain pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Lisman Manurung berpendapat tata kelola demokratis (Democratic Governance) secara signifikan mengalami transformasi oleh efek sosio politik dan ekonomi yang ditimbulkan oleh covid 19.

Misalnya menguatnya Global Public Policy yakni guidance dari WHO atas 215 negara dalam masing masing public policy making.

“Isu dominan yang menjadi pergunjingan baru adalah Digital Governance,” jelas peraih doktor di salah satu universitas di Australia ini.

Sedangkan Pengamat Intelejen Stanislaus Riyanta menyebut reshuffle kabinet adalah hal yang biasa dan menjadi kewenangan penuh dari Presiden.

Namun kata dia, ada beberapa hal yang memungkinkan terjadi reshuffle seperti kinerja yang tidak sesuai dengan target, adanya halangan dari menteri sehingga harus diganti seperti terkena masalah hukum, atau adanya tekanan politik.

“Pada periode pertama Joko Widodo, 2014-2019, tercatat melakukan Reshuffle sebanyak empat kali dan enam menteri mundur. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pemerintahan Joko Widodo, reshuffle adalah hal yang biasa,” jelas Riyanta.

Saat ini jelas Riyanta, tekanan terhadap pemerintah Joko Widodo cukup tinggi, karena adanya pandemi Covid-19 dan tekanan politik serta publik yang menyoroti kinerja kabinet. Presiden Joko Widodo sudah mengungkapkan kemarahannya terhadap kabinet bahkan dengan ancaman pencopotan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sinyal reshuffle sudah semakin dekat walaupun beberapa saat kemudian Mensekneg Pratikno menyatakan bahwa kinerja menteri sudah membaik.

Jika melihat situasi saat ini maka momentum yang tepat untuk melakukan reshuffle kabinet adalah menjelang atau sesaat setalah Pilkada usia. Harapannya adalah Presiden Joko Widodo jika perlu melakukan reshuffle adalah dengan memperbanyak profesional dibanding politikus, sehingga kinerja kabinet lebih baik lagi.

Sementara, Direktur Eksekurif Political and Public Policy Studies (P3S) mempertanyakan Apakah ini sandiwara karena ada bacaan-bacaan yang harusnya nggak perlu. Ini seharusnya presiden melihat kebutuhan publik, bukan sekadar keinginan.

“Jangan-jangan ini mirip telenovela Maria Mercedes, Kassandra atau Si Muka Kotor, publik lagi wait and see soal pernyataan presiden berkaitan dengan reshuffle kabinet, kalau tidak dilakukan maka kepercayaan publik akan hilang distrust and disintegrity lantaran bulan febuari juga sempat behembus kabar pergantian menteri,” jelas peneliti politik Amerika ini.

Selanjutnya kata Jerry, mimpi bisa, tapi actionnya mana?

Harusnya pak Jokowi ucap dia, melihat mana menteri-menteri yang loyo, lesu, lemah dan banyak bikin gaduh di fire atau copot saja.

“Jangan terlalu banyak asumsi tapi to the point saja. Bilang gagal kalau gagal jangan memuji yang kinerjanya buruk. Harusnya, dibentuklah tim ahli di belakang Jokowi (untuk bahas reshuffle) seperti era mendiang Gus Dur dan Presiden ke-6 SBY.

Sebetulnya tegasnya, kabinet sekarang bukan kabinet yang menyenangkan kuping. Bagaimana dengan tiga dapur di Istana Kepresiden? Ini kan sebenarnya kecekatan presiden melihat. Di partai-partai pendukung Jokowi banyak, kok kandidat menteri yang hebat untuk gabung di kabinet.

“Kalau tidak ada reshuffle, kepercayaan publik akan menurun. Perlu reshuffle,” katanya.

Begitu pula dengan pengamat politik Wempy Hadir yang lebih menekankan dramaturgi reshuffle Ini menggambarkan siapa di belakang reshuffel.

“Secara historis, Jokowi sebenarnya sudah pernah lakukan. Harusnya nggak ada masalah lagi soal kebijakan tersebut. Soal marah-marah saya pikir hanya untuk mendobrak untuk dorong kinerja dan gaya komunikasi istana sebelumnya. Soal reshufle, ini tergantung rating approval. hasil survey menunjukkan RA itu di bawah 55 persen. Ini sangat rendah sekali. Kalau ini basisnya, ini sudah sepatutnya diganti,” terangnya.

Masalahnya, di sini ada kompromi politik. Memang agak sulit bicara koalisi. 1.Kesamaan ideologi, 2.Kepentingan. Apa visi misi sama.

“Saya kira nggak ada persoalan kalau sama. Masalahnya mereka juga punya keinginan politik untuk 2024 meningkatkan elektoral. Kita tidak bisa berharap kalau partai hanya mengirim orang terdekat, bukan terbaik,” kata Wempy.

Isu ini tidak terlepas dari konstelasi perpolitikan nasional. PAN dan PD lakukan pendekatan politik ke Jokowi. AHY menuju 2024.

Pegiat Medsos Rudi S Kamri dalam kesempatan ini mengajak agar pendukung Jokowi tetap tenang dan terus mendukung pemerintahan beliau lebih dari itu memberikan kesempatan pada Presiden.

Pegiat medsos ini yakin Jokowi tahu apa yang dibutuhkan publik.

“Jadi soal reshuffle kabinet, paling tidak Presiden memahami siapa yang layak ganti, biarlah kita menyerahkan pada keputusan Presiden,” tegas Rudi. (GS)

Editor : SRS

Facebook Comments

WEBINAR CEGAH RADIKALISME DITENGAH PANDEMI COVID19

0

PatriotSatu.com-Jakarta, Jumat(19/06/2020) Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta Gelar Diskusi virtual Tentang cegah redikalisme ditengah Pandemi covid-19 di Jakarta.

Ditengah pendemi covid-19 Pemerintah dan masyarakat di sibukan untuk melawan virus yang mematikan, akan tetapi masih ada saja kelompok radikalisme yang memanfaatkan kesempatan untuk menghasut masyarakat untuk melakukan gerakan anti Pancasila dan NKRI. Menangkap isu tersebut Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta Gelar Diskusi virtual dengan tema cegah redikalisme ditengah Pandemi covid-19 di Jakarta.
Dalam Diskusi virtual tersebut mengundang narasumber Gus Sholeh Mz. M.Ag (Pendakwah dan pengamat sosial budaya) dan Ustad Imam Mustofa, M.Si. (Penulis Buku Radikalisme) dan dimoderatori oleh Wulandari aktifis Jakarta serta diikuti dari berbagai kalangan seperti mahasiswa dan masyarakat umum (19/6)

Gus sholeh dalam diskusi virtual ini, menyampaikan kelompok radikalisme ditengah pandemi ini untuk menyebarkan radikalisme, yakni dengan membuat berbagai ragam hoax. mereka mencuci otak masyarakat untuk merubah pemahaman masyarakat.
Kelompok-kelompok radikalisme aktif di media sosial, karena dengan kemajuan teknologi saat ini masyarakat juga akan mencari apa yang ingin mereka ketahui dari internet. maka kita harus meluruskan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai pancasila dan nkri agar masyarakat tidak terdoktrin oleh radikalisme.

Pandangan lain Imam mustofa salah satu penulis buku radikaliseme menyampaikan bahwasannya, penyebaran radikalisme melaui dua cara yaitu pertama adalah media pendidikan, mereka akan ‎menanamkan doktrin-doktrin yang menjauhkan nilai-nilai kecintaan anak-‎anak terhadap ideologi Pancasila dan NKRI. dan yang kedua adalah ‎media sosial, kelompok radikalisme sangat aktif di media sosial. mereka akan mudah ‎mendoktrin masyarakat menggunakan media sosial.
Untuk mencegah penyebaran radikalisme ini kita harus menanamkan ‎nilai-nilai moral pancasila, adat, dan budaya kepada seluruh elemen masyarakat. Tegasnya
Respon yang aktif dari peserta, salah satunya Farid dengan melontarkan pertanyaan tentang mengenai pengaruh penyebaran radikalisme oleh satu partai. Gus Sholeh pun merespon baik pertanyaan oleh Farid, penyebaran radikalisme sebenarnya bukan partai politiknya yang menjadi ancaman. tetapi oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan politik tersebutlah yang akan menjadi ancaman.dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan politik untuk kepentingan kelompok radikalisme. Seharusnya kegiatan apapun yang dilakukan di negara Indonesia ini baik politik ataupapun ekonomi harus berdasarkan dengan nilai-nilai pancasila yang telah menjadi kesepakatan bersama bangsa Indonesia. Tutupnya (GS)
Editor : srs

Facebook Comments

Halal Bihalal Memperkuat Kaderisasi NU dikalangan masyarakat di Kabupaten Bogor

0

PatriotSatu.com-Bogor,Rabu(27/05/2020), Pengurus Ranting NU Parung yang diinisiasi oleh Ust.Maksum mengadakan halal bihalal antar pengurus NU dengan para simpatisan area Bogor Utara yang diadakan di rumah satkaryon Banser NU Kang Sanadi.
Kegiatan lailatul ijtima dan pengkaderan PKPNU bertujuan untuk memperkuat NU di akar rumput.

Kegiatan tersebut bertujuan untk mempererat silaturrahim sesama kader NU dan pengurus NU, hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus Mwc Parung(Ust.Maksum dkk),MWC Ciseeng(Ust.Ghozawi dkk),Ansor dan Banser Gunung Sindur. Sebagai pembicara Kyai Ahmad Suhadi, berpesan bahwa saat ini NU sebagai jamiyah Diniyah tidak lagi menawarkan NU melalui pendekatan kultural semata-mata seperti istigotsah,manaqiban,tahlilan dan sebagainya,tetapi saat ini NU juga sebagai jamiyah KeUlamaan sebagaimana spirit para muasis dalam realita saat ini utk mengisi
عارفا بزمانه , adalah mulai melakukan pengenalan bagaimana NU berharokah sesuai manhaj fikroh annahdliyah dan manhaj siyasah annahdliyah, yang memiliki ciri tersendiri dalam merawat ajaran ahlussunah waljamaah dan merawat NKRI dengan pendekatan dakwah yang ramah dan sejuk.

Kyai Abdullah Shomdani selaku instruktur PKPNU yang tinggal di kecamatan Parung berpesan untuk keluar dari masalah dan problem baik umat maupun bangsa agar tidak lupa membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
“Dengan sholawat walaupun satu kali mudah-mudahan Allah akan melepaskan kita semua dari wabah pandemik covid 19,” ujar K.Shomdani.

Selesai acara kegiatan tersebut para kyai dan kader se Bogor utara terjadi diskusi cukup serius bahkan terjadi perdebatan ala NU yang selalu dibumbui jok-jok guyonan ala NU,walau serius dengan urat leher menegang tapi tidak lupa canda dan tawa yang menjadi khas NU,keakraban di NU sangat terasa dengan saling menghargai perbedaan pemikiran. (Shdi)

Editor : Srs

Facebook Comments

Fanatisme Membabi Buta Mengalahkan Nilai Kemanusiaan

0

Ditengah kondisi wabah pandemik covid 19 yang belum kunjung reda, masyarakat dan warga terfokus perhatiannya kepada penanggulangan wabah corona, baik dalam bentuk pembagian masker, penyemprotan disinfektan sampai kepada physical distancing dan social distancing.

Aneh, jika dalam kondisi seperti ini masih ada saja pihak-pihak yang mengatasnamakan agama untuk mengintimidasi pihak lain agar tidak melakukan kegiatan ibadah.
Hingga masyarakat minoritas kebingungan mau ke gereja, vihara, kuil atau pura dilarang karena harus ikut kebijakan pemerintah yaitu sosial distancing sementara itu pula ibadah di rumah masing-masing dilarang dengan alasan bukan tempat ibadah.
Memang sebenarnya negara ini milik satu agama atau banyak agama sih? Kan yang penting masih berTuhan, itu yang pasti dikeluhkan oleh pihak yg selalu dipersalahkan.

Ahmad Suhadi selaku Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya melihat kasus-kasus intoleransi yang terjadi ditengah wabah covid 19 saat ini karena beberapa faktor:
1. Pihak yang masih melakukan cara-cara intoleransi karena jiwa kemanusiaan yang telah hilang yang seharusnya bagaimana membantu orang lain untuk terlepas wabah corona dan bekerjasama melawan covid 19 ini malah digunaan menyerang keyakinan kelompok lain.
2. Pihak yang masih melakukan perbuatan intoleransi karena telah tertanam doktrin keagamaan yang salah atau fanatisme buta yang tidak dilandasi ilmu agama dan hukum kenegaraan.
3. Mencari peluang populatitas dengan menikung jalan lain.

Sebagai negara yang beradab dengan landasan agama,Tuhan YME telah mengajarkan dlm Al-Quran ´´waman adzlamu miman mana´a masajidallahi ayyudzkaro fiihasmuhu…´´artinya : kedzoliman yg paling besar adalah menghalangi orang lain utk menyebut nama Tuhannya…´´.

dalil agama diatas selaras dengan UUD 45 pasal 29 ayat 1-2, yaitu negara menjamin setiap warga utk memilih keyakinan dan kepercayaan masing-masing dan menjalankan kepercayaannya itu.

Penulis berharap, segera hentikan setiap perbuatan-perbuatan dgn atas nama agama utk menghalangi agama lain dalam menjalankan keyakinannya.

Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi
Ketua Forum Komunikasi Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments

Kenakalan Berpikir Masyarakat yang Terpapar virus politik Identitas di Masa Covid 19

0

Dengan Pendekatan Keagamaan menurut Madzhab Imam al-Syafi’i yang mayoritas dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia bahkan se Asia Tenggar,bahwa Imam Syafei menjelaskan :

َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, h. 244)

Sebagai seorang muslim yang moderat, hal yang elok dalam menyikapi wabah Covid-19 saat ini seharusnya merujuk pada seruan pemerintah sebagai kepanjangan dari Ulil Amri, MUI sebagai wadah Fuqaha (yurisprudence hukum Islam)dalam merumuskan fatwa-fatwa agama dan Dokter merupakan pihak yang paling mengetahui cara mencegah penyakit dst, tentunya dengan tetap melihat status zona wilayahnya. Bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu orang-orang awam apalagi membantah fatwa MUI yang jelas-jelas berdampak pada kemaslahatan bersama jika dilaksanakan. Kalaulah mereka dengan berbagai latar belakang keilmuan yang mempuni saja tidak ditaati juga, terus siapa lagi yang mau ditaati di negeri ini ?

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi saat ini,baik di negara kita maupun belahan dunia lainnya dari mulai kasus pertarungan politik, ekonomi,budaya bahkan pergulatan ideologi keagamaan.Semua itu merupakan rangkaian yg menjadi sabab dari musabab yg menghilangkan kestabilan alam hingga terjadilah beragam kasus musibah yang silih berganti,Allah Tuhan yang memiliki Qudrot dan Irodat tidak memandang sebanyak apa ritual yg dilakukan hambanya,andaikan hambanya satupun tak lagi menyemahnya derajat Ketuhanan yg dimiliki Allah tidak akan menurun dan andaikan semua pada menyembahnya pun Allah sbg Tuhan tak akan bertambah derajatnya.Karena Allah adalah pemiliki kesempurnaan.

Esensi ketuhanan tak bisa dihalangi olh adanya sabab sesuatu,akan tetapi manusia sbg makhluk ciptaannya tentunya harus mengikuti tata nilai yg menjadi sunatullah(hukum alam) atw hukum causality(sebab akibat) maka dari itu dg adanya pandemik covid 19 ini utk dapat tercegah bukan malah menyalahkan Allah jk nnti manusia yg tdk lagi mengikuti aturan sabab akibat tsb terkena penyakit tersebut.

Allah memerintahkan kepada manusia harus ada dijalan sabab akibat walaupun hakekatnya taqdir baik maupun buruk itu telah Allah ciptakan.
ان تأثر الممکنات ایجادا واعداما

Pertanyaannya :jika kita sbg manusia tdk mau mengikuti seruan pemerintah,dg alasan percaya dan yakin saja kpd Allah dan kenapa harus mengambat pelaksanaan ibadah?..pertanyaan tersebut harus dijawab sendiri,lebih bersih mana Tauhid anda dg Syekh Abdul Qodir Aljailani dan para auliya lainnya,lebih tinggi mana keilmuan anda dg ulama selevel Imam syafei??
Imam syafei sj melarang kita utk tdk meninggalkan sabab akibat disamping keyakinan segala apapun terjadi krn irodah Allah..
Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi (Dosen STAI Ashoba)
Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments