Beranda blog

Halal Bihalal Memperkuat Kaderisasi NU dikalangan masyarakat di Kabupaten Bogor

0

PatriotSatu.com-Bogor,Rabu(27/05/2020), Pengurus Ranting NU Parung yang diinisiasi oleh Ust.Maksum mengadakan halal bihalal antar pengurus NU dengan para simpatisan area Bogor Utara yang diadakan di rumah satkaryon Banser NU Kang Sanadi.
Kegiatan lailatul ijtima dan pengkaderan PKPNU bertujuan untuk memperkuat NU di akar rumput.

Kegiatan tersebut bertujuan untk mempererat silaturrahim sesama kader NU dan pengurus NU, hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus Mwc Parung(Ust.Maksum dkk),MWC Ciseeng(Ust.Ghozawi dkk),Ansor dan Banser Gunung Sindur. Sebagai pembicara Kyai Ahmad Suhadi, berpesan bahwa saat ini NU sebagai jamiyah Diniyah tidak lagi menawarkan NU melalui pendekatan kultural semata-mata seperti istigotsah,manaqiban,tahlilan dan sebagainya,tetapi saat ini NU juga sebagai jamiyah KeUlamaan sebagaimana spirit para muasis dalam realita saat ini utk mengisi
عارفا بزمانه , adalah mulai melakukan pengenalan bagaimana NU berharokah sesuai manhaj fikroh annahdliyah dan manhaj siyasah annahdliyah, yang memiliki ciri tersendiri dalam merawat ajaran ahlussunah waljamaah dan merawat NKRI dengan pendekatan dakwah yang ramah dan sejuk.

Kyai Abdullah Shomdani selaku instruktur PKPNU yang tinggal di kecamatan Parung berpesan untuk keluar dari masalah dan problem baik umat maupun bangsa agar tidak lupa membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
“Dengan sholawat walaupun satu kali mudah-mudahan Allah akan melepaskan kita semua dari wabah pandemik covid 19,” ujar K.Shomdani.

Selesai acara kegiatan tersebut para kyai dan kader se Bogor utara terjadi diskusi cukup serius bahkan terjadi perdebatan ala NU yang selalu dibumbui jok-jok guyonan ala NU,walau serius dengan urat leher menegang tapi tidak lupa canda dan tawa yang menjadi khas NU,keakraban di NU sangat terasa dengan saling menghargai perbedaan pemikiran. (Shdi)

Editor : Srs

Facebook Comments

Fanatisme Membabi Buta Mengalahkan Nilai Kemanusiaan

0

Ditengah kondisi wabah pandemik covid 19 yang belum kunjung reda, masyarakat dan warga terfokus perhatiannya kepada penanggulangan wabah corona, baik dalam bentuk pembagian masker, penyemprotan disinfektan sampai kepada physical distancing dan social distancing.

Aneh, jika dalam kondisi seperti ini masih ada saja pihak-pihak yang mengatasnamakan agama untuk mengintimidasi pihak lain agar tidak melakukan kegiatan ibadah.
Hingga masyarakat minoritas kebingungan mau ke gereja, vihara, kuil atau pura dilarang karena harus ikut kebijakan pemerintah yaitu sosial distancing sementara itu pula ibadah di rumah masing-masing dilarang dengan alasan bukan tempat ibadah.
Memang sebenarnya negara ini milik satu agama atau banyak agama sih? Kan yang penting masih berTuhan, itu yang pasti dikeluhkan oleh pihak yg selalu dipersalahkan.

Ahmad Suhadi selaku Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya melihat kasus-kasus intoleransi yang terjadi ditengah wabah covid 19 saat ini karena beberapa faktor:
1. Pihak yang masih melakukan cara-cara intoleransi karena jiwa kemanusiaan yang telah hilang yang seharusnya bagaimana membantu orang lain untuk terlepas wabah corona dan bekerjasama melawan covid 19 ini malah digunaan menyerang keyakinan kelompok lain.
2. Pihak yang masih melakukan perbuatan intoleransi karena telah tertanam doktrin keagamaan yang salah atau fanatisme buta yang tidak dilandasi ilmu agama dan hukum kenegaraan.
3. Mencari peluang populatitas dengan menikung jalan lain.

Sebagai negara yang beradab dengan landasan agama,Tuhan YME telah mengajarkan dlm Al-Quran ´´waman adzlamu miman mana´a masajidallahi ayyudzkaro fiihasmuhu…´´artinya : kedzoliman yg paling besar adalah menghalangi orang lain utk menyebut nama Tuhannya…´´.

dalil agama diatas selaras dengan UUD 45 pasal 29 ayat 1-2, yaitu negara menjamin setiap warga utk memilih keyakinan dan kepercayaan masing-masing dan menjalankan kepercayaannya itu.

Penulis berharap, segera hentikan setiap perbuatan-perbuatan dgn atas nama agama utk menghalangi agama lain dalam menjalankan keyakinannya.

Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi
Ketua Forum Komunikasi Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments

Kenakalan Berpikir Masyarakat yang Terpapar virus politik Identitas di Masa Covid 19

0

Dengan Pendekatan Keagamaan menurut Madzhab Imam al-Syafi’i yang mayoritas dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia bahkan se Asia Tenggar,bahwa Imam Syafei menjelaskan :

َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, h. 244)

Sebagai seorang muslim yang moderat, hal yang elok dalam menyikapi wabah Covid-19 saat ini seharusnya merujuk pada seruan pemerintah sebagai kepanjangan dari Ulil Amri, MUI sebagai wadah Fuqaha (yurisprudence hukum Islam)dalam merumuskan fatwa-fatwa agama dan Dokter merupakan pihak yang paling mengetahui cara mencegah penyakit dst, tentunya dengan tetap melihat status zona wilayahnya. Bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu orang-orang awam apalagi membantah fatwa MUI yang jelas-jelas berdampak pada kemaslahatan bersama jika dilaksanakan. Kalaulah mereka dengan berbagai latar belakang keilmuan yang mempuni saja tidak ditaati juga, terus siapa lagi yang mau ditaati di negeri ini ?

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi saat ini,baik di negara kita maupun belahan dunia lainnya dari mulai kasus pertarungan politik, ekonomi,budaya bahkan pergulatan ideologi keagamaan.Semua itu merupakan rangkaian yg menjadi sabab dari musabab yg menghilangkan kestabilan alam hingga terjadilah beragam kasus musibah yang silih berganti,Allah Tuhan yang memiliki Qudrot dan Irodat tidak memandang sebanyak apa ritual yg dilakukan hambanya,andaikan hambanya satupun tak lagi menyemahnya derajat Ketuhanan yg dimiliki Allah tidak akan menurun dan andaikan semua pada menyembahnya pun Allah sbg Tuhan tak akan bertambah derajatnya.Karena Allah adalah pemiliki kesempurnaan.

Esensi ketuhanan tak bisa dihalangi olh adanya sabab sesuatu,akan tetapi manusia sbg makhluk ciptaannya tentunya harus mengikuti tata nilai yg menjadi sunatullah(hukum alam) atw hukum causality(sebab akibat) maka dari itu dg adanya pandemik covid 19 ini utk dapat tercegah bukan malah menyalahkan Allah jk nnti manusia yg tdk lagi mengikuti aturan sabab akibat tsb terkena penyakit tersebut.

Allah memerintahkan kepada manusia harus ada dijalan sabab akibat walaupun hakekatnya taqdir baik maupun buruk itu telah Allah ciptakan.
ان تأثر الممکنات ایجادا واعداما

Pertanyaannya :jika kita sbg manusia tdk mau mengikuti seruan pemerintah,dg alasan percaya dan yakin saja kpd Allah dan kenapa harus mengambat pelaksanaan ibadah?..pertanyaan tersebut harus dijawab sendiri,lebih bersih mana Tauhid anda dg Syekh Abdul Qodir Aljailani dan para auliya lainnya,lebih tinggi mana keilmuan anda dg ulama selevel Imam syafei??
Imam syafei sj melarang kita utk tdk meninggalkan sabab akibat disamping keyakinan segala apapun terjadi krn irodah Allah..
Ditulis oleh :
Ahmad Suhadi,S.Pdi (Dosen STAI Ashoba)
Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya

Editor : Saras

Facebook Comments

Relawan SAJOJO Banten bersama BRABUS Peduli COVID 19

0

PatriotSatu.com – Banten,Selasa(07/04/2020), Brabus Indonesia By Alron Group bekerjasama dengan Relawan SAJOJO Banten (Sahabat Joeang Jokowi) dan We Love NKRI Community mengadakan acara “Peduli Covid19” dengan membagikan masker dan sembako yang berisi beras, minyak goreng, Indomie, gula, telor dan air mineral dibagikan kepada 100 fakir miskin di desa Panimbang Pandeglang Banten Selatan.

Disaat kondisi sulit seperti ini, karena adanya wabah penularan Covid-19 yang telah melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, maka Pemerintah melakukan kebijakan Social Distance untuk meminimalisir penyebarannya dan masyarakat tidak diperbolehkan berkumpul-kumpul dengan orang banyak, termasuk ibadah di masjid atau tempat ibadah umat lainnya dan juga tidak diperbolehkan keluar rumah apabila tidak urgensi sekali maka otomatis juga tidak bisa bekerja diluar rumah.

Bagi orang yang diberikan kelebihan oleh Allah masih bisa bertahan karena memiliki sejumlah uang di tabungan, tapi bagi warga miskin desa yang hidup sangat pas-pasan, kerja hari ini hanya cukup dimakan hari ini juga bahkan sering kurang, maka tidak memiliki uang lebih untuk ditabungkan.
Memang ada janji dari Pemerintah untuk membantu warga miskin tapi jumlahnya tidak seberapa dan sampai detik ini banyak warga miskin yang belum menerimanya mungkin karena masih dalam proses administrasi atau hal lainnya.

Maka kepedulian pengusaha atau orang yang diberikan kelebihan oleh Allah Tuhan YME pada saat kondisi seperti ini sangat berarti sekali bagi orang-orang miskin, sehingga dapat sedikit meringankan bebannya.

Semoga acara aksi nyata Peduli Covid19 kepada sesama seperti ini dapat dilakukan oleh para pengusaha lainnya atau orang-orang kaya kepada masyarakat prasejahtera di seantero Nusantara.

Akhirnya, hanya kepada Allah Tuhan YME kita berharap semoga badai Corona segera berlalu dari bumi Pertiwi Indonesia, Amin.
[GSM]

Editor : SRS

Facebook Comments

Gus Sholeh Mz, Koordinator SAJOJO Banten, menghimbau untuk melaksanakan Sholat Ghaib

0

PatriotSatu.com-Banten,Kamis(26/03/2020),
Gus Sholeh Mz, Koordinator #01SAJOJO Banten, menghimbau kepada Muslim Muslimah di Indonesia, untuk melaksanakan sholat ghaib dirumahnya masing-masing untuk Almarhumah Ibu Hj. Sudjiatmi Notomiharjo Ibunda Presiden Jokowi.

TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN PUTRAMU BAGI BANGSA INI.
Selamat Jalan Ibu Yang Mulia Ibunda Presiden Jokowi, Ibu Sudjiatmi Notomihardjo

Kita kehilangan seorang “IBU BANGSA” yang mulia. Dia mulia, karena dia bagai samudra yang mampu dan rela menampung selaksa sampah hinaan, makian, fitnah terhadap putra yang dikasihinya. Bahkan ketika fitnah dan hinaan itu menyambar dirinya, dia hanya tersenyum tipis dan hening. Dia hening, masuk dalam doa-doanya.
Itu sebabnya sang putra tetap tegak bagai batu karang.

Selamat jalan ibu..
Doa terbaik kami untukmu
Hormat terdalam kami untukmu

Terima kasih telah memberikan putramu bagi bangsa ini.

اِنّالِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاِجِعُوْن
Kami Keluarga Besar Relawan
#SAJOJO
#SahabatJoeangJokowi
Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ibu Hj. Sudjiatmi Notomiharjo Ibunda Presiden Jokowi, semoga Husnul khatimah
أَمِينِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
لها الفاتحة.
(GS)

Editor : mfs

Facebook Comments

Corona Antara Kekalutan dan Kepercayaan Diri

0

PatriotSatu.com-Bogor,Jawa Barat, Rabu (25/03/2020) Dengan mewabahnya virus Covid-19 yang sudah banyak memakan korban di seluruh penjuru dunia, tak sedikit membuat kecemasan baik dikalangan pemerintahan maupun masyarakat umum.
Dalam kondisi belum meredanya virus Covid-19 memang ada beberapa kalangan yang memanfaatkan kondisi ini dijadikan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan, dari mulai menjual masker gila-gilaan hingga penebaran hoaks yang kian menjadi-jadi.

Bahkan menurut Ketua Forum Kebangsaan Bogor Raya, Kyai Suhadi, saat ini semua kalangan mendadak jadi dokter yang seolah-olah lebih faham menangani virus Covid-19 bahkan sangat faham tentang virus Corona tsb.
Kyai Suhadi menyatakan, ” Juga konsen sebagai pemerhati pendidikan keagamaan, menyerukan kepada semua kalangan baik akademisi, profesional dan para agamawan juga kepada masyarakat luas untuk selalu menjaga kebersihan diri dan hindari kecemasan yang memuat imunitas tubuh berkurang sehingga kondisi kejiwaan yg tidak stabil mudah diserang penyakit dan dikhawatirkan akan mudah terinfeksi virus Covid-19.

Kyai Suhadi, juga menghimbau agar masyarakat terus berikhtiar dan berusaha untuk menghindari kegiatan berkumpul atau mengurangi aktifitas di luar rumah agar memutus mata rantai penyebaran virus ini. Agar tidak terjangkiti virus corona-19 diharapkan diam di rumah dan tidak mengunjungi keramaian sesuai anjuran pemerintah adalah hal yg harus dipatuhi. Dan bagi yang sudah terkena gejala harus segera mendapat penanganan yang serius.

Di tempat tepisah, Hadi Wibowo selaku Ketua Komisariat Patriot Garuda Nusantara Bogor Raya menghimbau kepada segenap masyarakat agar tidak terlalu panik menyikapi wabah virus menular seperti virus corona-19 tsb.
Menurutnya, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal serta selalu menyediakan tissue basah atau hand sanitizer penting dlm menjaga kebersihan diri. Hindari kontak dg orang lain minimal satu meter begitupula menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas di malam hari agar tubuh tetap fit.

Imunitas tubuh melemah karena pikiran dan pola makan yg tidak stabil akan membuat virus Covid-19 dengan mudah menyerang dan menginfeksi kita, maka menjaga stabilitas pikiran dengan rileks menyikapi wabah corona sambil mengikuti seruan pemerintah adalah pencegahan dini yg lebih efektif, menurut Asep Mulyadi yang baru saja didaulat kembali sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Kemang, Bogor
Kita tentunya harus mendukung dan membantu para tenaga medis baik dengan doa atau siap menjadi fasilitator bagi siapapun yg ingin membantu para dokter dan tenaga medis utk menangani pasien yang positif terkena wabah virus Covid-19.

Sugeng Teguh Santoso, Ketua Yayasan Satu Keadilan ikut menimpali bencana pandemi saat ini,”Virus Covid 19 ini bukan hanya tugas dokter dan tim medis semata tapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dalam memerangi wabah tersebut. Ini sudah menjadi masalah kita bersama, masalah bangsa dan negara. (SH)

Editor : mfc

Facebook Comments

Talk Show “Membumikan Pancasila” Di Pondok Pesantren Riyadhul Jannah dengan Gus Soleh sebagai Narasumber Utama

0

PatriotSatu.com-Tangerang,Banten, Kamis(20/2/2020) Menghadapi berbagai potensi ancaman radikalisme di kalangan pemuda, pelajar, hingga santri, Pondok Pesantren Riyadlul Jannah bersama Gus Sholeh mengadakan Talkshow bertema Peran Pondok Pesantren Dalam Membangun Nilai-Nilai Islam dan Kebangsaan, di aula SMK Jaya Buana, Kresek, Tangerang, Banten. Narasumber utama Gus Sholeh yang dikenal sebagai Kyai Moderat alumni Gontor Jawa Timur membawa suasana diskusi cukup dinamis dan antusias yang tinggi dari para santri dengan memberikan motivasi yang dapat membangkitkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme para santri peserta diskusi diacara talk show ini.

“Bangsa Indonesia lahir atas dasar memerdekaan diri dari penjajah yang tidak lepas dari peran besar para alim ulama”, ungkap Gus Sholeh. Bangsa ini terjajah akibat mudahnya diadu domba oleh kaum penjajah, baik melalui isu antar suku, antar agama, hingga antar kerajaan pada zaman dahulu, imbuhnya. Dia berharap masyarakat di zaman sekarang khususnya para santri tidak boleh mudah di adu domba sehingga tetap menjadi pemersatu bangsa, tutup Gus Sholeh pada acara diskusi tersebut (20/02).

“Kelompok-kelompok radikalis seperti ISIS, Al Qaeda, JAD hingga transnasional HTI, yang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat harus bersama-sama kita lawan karena memanfaatkan agama untuk memecah belah”. Peran seluruh masyarakat salah satunya melalui para ustadz dan santri harus menyiarkan Islam rahmatan lil alamin yang melindungi umat, mencintai persatuan dalam menjaga NKRI dan Pancasila tutupnya.

“Para santri merupakan generasi penerus bangsa yang akan terus dididik ilmunya, baik formal maupun agama”, ucap Ust. Jalaludin, penasehat Ponpes Riyadlul Jannah. “Kami juga berharap santri didikan kita disini mampu menjadi penyiar agama yang dapat meneduhkan umat, pemersatu masyarakat, hingga pemersatu bangsa Indonesia”, imbuhnya.

KH. Rasyidi sebagai pimpinan Ponpes Riyadlul Jannah juga berharap ilmu-ilmu yang disampaikan kepada para santrinya akan mampu diserap dan menjadi pegangan para santri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kegiatan positif seperti ini akan terus disisipkan dalam pembelajaran Ponpes sehingga para santri mampu menjadi benteng utama paham intoleran, paham takfiri, hingga paham radikal.

Sebelumnya, ramai diberitakan para pelajar menggunakan seragam pramuka mengibarkan bendera hitam yang melambangkan bendera HTI. Kasus ini dianggap berbagai pihak sebagai bukti bahwa ancaman radikal di Indonesia tidak main-main menyasar para generasi muda. Setelah insiden ini, para pengamat menganggap peran ulama sebagai benteng pertahanan ideologi bangsa wajib menyiarkan dan menjaga para santri untuk menangkal paham radikal di tengah-tengah masyarakat terutama kepada para santri. Hal ini yang coba diwujudkan Pondok Pesantren Riyadlul Jannah di Kecamatan Kresek wilayah Kabupaten Tangerang,Banten (GS)

Editor : admin

Facebook Comments

Surat terbuka untuk Presiden JOKOWi

0

Surat Terbuka

Kepada Yang Terhormat Bapak Presiden Jokowi
Cq.
Yang Terhormat :
Bapak Menteri Agama RI
Bapak Ketua BNPT
Bapak Menteri POLHUKAM

Oleh:
Gus Sholeh MZ

Assalamualaikum
Dengan hormat,
Kami sebagai Relawan #01, meskipun bukan orang partai, tapi kami berjibaku berjuang siang malam tanpa kenal lelah untuk memenangkan Presiden idola kami yaitu Jokowi-Ma’ruf, dengan harapan apa yang kami lihat konstalasi politik di Indonesia saat PILGUB DKI JAKARTA sangat miris, bahwa benih perpecahan sesama anak bangsa yang bertopengkan agama mulai jual ayat sampai mayat mereka mainkan demi kekuasaan, disaat itu tampak cukup jelas, bagaimana kekuatan penumpang gelap (kelompok transnasional/ Khilafah) yang hendak mengubah Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dengan ideologi mereka (Negara Agama), bergerak all out dengan demo berjilid jilid sampai klimaknya menanglah Gubernur pilihan mereka.

Melihat hal tersebut diatas, meskipun kami bukan orang partai yang tidak ada kepentingan bagi kami dengan kekuasaan, karena melihat hal tersebut diatas mau tidak mau kami berjibaku bergerak untuk untuk memenangkan Capres #01 Jokowi-Ma’ruf yang merespentatifkan Nasionalis-Religius Religius-Nasionalis agar empat pilar bangsa kita tetap berdiri tegak dan kokoh dibumi Indonesia sampai kapanpun.

Berkembangnya pemikiran ideologi transnasional atau khilafah atau negara tuhan di Indonesia ada sejak awal berdirinya bangsa ini, yaitu DII/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo dan di Indonesia Timur dipimpin oleh Kahar Muzakar, Alhamdulillah diera Orde Lama dapat ditumpas oleh Pemerintahan Presiden Soekarno.
Dijaman Orde Baru mereka bergerak sembunyi-sembunyi dibawah tanah bahkan banyak diantara mereka dikejar kejar BABINSA nya Orba, diantara kelompok mereka adalah yang berada di kampus terhimpun di LDK yang banyak memvirusi mahasiswa baru tentang pentingnya mendirikan Negara Agama atau Negara Tuhan dengan satu komando dengan menghilangkan sistim negara-negara yang ada atau yang populer yang disebut dengan khilafah dan diluar kampus mereka banyak terhimpun di Tarbiyah, belum lagi kelompok-kelompok bawah tanah yang lainnya.

Diera Reformasi era kebebasan dan keterbukaan bangsa Indonesia, setelah 32 tahun dikungkung oleh Pemerintah ORBA, mereka mengambil kesempatan ini bergerak serentak membangun kekuatan diberbagai lini dan sektor untuk mewujudkan impian dan dogma mereka yang “Is Kariman Au Mut Syahidah” (Hidup Mulia atau Mati Syahid demi tegaknya Khilafah), bahkan mereka memiliki partai yang bisa menjadi sepuluh besar di Indonesia serta masuk di parlemen pusat DPR/MPR RI serta telah masuk 2 pereiode di Pemerintah SBY.
Dan pada periode tersebut mereka mempunyai gerak dan langkah yang cukup signifikan memasuki dan mengusai Pemerintah SBY utamanya 5 Kementerian yang mereka pegang. Langkah pertama mengganti seluruh pimpinan baik tingkat pusat sampai wiliyah di 5 Kementerian yang mereka kuasai, kemudian mengusai masjid-masjid dilingkungan 5 Kementerian tersebut baik pusat maupun wilayah.

Ini merupakan PR besar kita bersama utamanya Menteri Agama dan Kementerian lainnya yang terkait dalam mengeleminir dan bila perlu mengikis habis pemikiran ideologi transnasional yang telah mereka kembangkan.
Mereka ada dalam 3 kategorikan kelompok besar, yaitu:
1. Dakwah & Sosial
2. Politik & Kekuasaan
3. Jihadis

Adapun 600 WNI yang tergabung dengan kombatan ISIS dan hendak dipulangkan oleh Pemerintah RI (Menag, BNPT & Mengkopolhukam) meskipun ini masih berupa wacana, dengan ini kami menyatakan bahwa: *”Kami sangat tidak setuju sekali untuk dipulangkan ke Indonesia, karena 600 WNI tersebut masuk kelompok kelas berat atau kategori kelompok ketiga yaitu para Jihadis”.*

Harapan kami bagaimana Pemerintah RI utamakan saja bekerja maksimal untuk mengeleminir gerakan Islam transnasional yang sudah ada dan berkembang di Indonesia saat ini, agar mereka yang tinggal di Indonesia bisa memiliki idealisme dan ideologi seperti kami, yaitu menjadi “Umat Islam Indonesia yang Wasatiyah” yang bisa menyelaraskan agama yang kita imani dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila.
Sehingga negara kita senantiasa bisa menjadi negeri yang “baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur” yaitu negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tenteram kerto rahadjo, murah sandang pangan lan papan. Amin.

•Gus Sholeh Mz
#JPK
#JamaahPengajianKebangsaan
Relawan:
#SAJOJO
#SahabatJoeangJokowi
#Mubaligh01Banten

Editor : srs

Facebook Comments

Peran Mahasiswa Jaman Now, Dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Era Global Informasi

0

PatriotSatu.com – Serang,Banten(13/12/2019) Mahasiswa zaman now memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme dan terorisme. Istilah “mulutmu harimaumu” dan dijaman medsos saat ini “jarimu adalah cakarmu” memiliki arti “Apapun yang kita lakukan terutama di media sosial bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak dinginkan.

Berikut disampaikan oleh Rizki Ikhwan S.STp, M.Si, dari Kominfo Serang. Saat menjadi pemateri dalam acara dialog kebangsaan dalam pencegahan radikalisme yang digelar oleh Aliansi Pemuda Peduli Negeri (APPN) di salah satu rumah makan di Kota Serang, Jumat (13/12/2019).

“Hal itu disebabkan oleh minimnya pemahaman yang diterima sehingga dialog-dialog kebangsaan seperi ini sangat diperlukan dimana bertemunya guru dengan murid secara langsung akan membangkitkan pemahaman,” ujarnya.

Selain itu, sebagai mahasiswa, menghidupkan lagi lagu-lagu nasionalisme terutama di lingkungan pendidikan, karena melalui itu akan membantu timbulnya jiwa-jiwa nasionalisme. Hal ini sederhana namun cukup bermakna dalam memunculkan rasa nasionalisme.

“Buatlah gerakan pemahaman ideologi bangsa kita, jangan hanya dimulut namun perlu kita aplikasikan melalui gerakan kegiatan mahasiswa. Pendidikan formal, non formal dan informal,” tuturnya.

“Gerakan-gerakan ini perlu kita mulai dari lingkungan terkecil kita yaitu keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa peran keluarga juga sangat penting dalam melindungi Pancasila sebagai ideologi bangsa,” pungkasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa dan pemuda untuk bersama-sama, membalas kebaikan tanah air kita yang telah berbaik hati kepada kita sejak kita lahir, mari berkarya lebih baik, cintai tanah air, dan saling menghargai antar umat beragama, antar suku dan antar budaya.

Selanjutnya penjelasan yang luar biasa disampaikan oleh Gus Soleh dalam kesempatan itu ia mengungkapkan terimakasihnya kepada seluruh rekan-rekan seperjuangannya yang telah mengikuti dan mensukseskan acara tersebut.

Dengan tegas ia mengatakan akan mendukung kegiatan Mahasiswa/ Pemuda, para Aktivis dan para Kyai serta Ustadz yang membela terus tegaknya Empat Pilar Bangsa yaitu PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Lanjutnya “Diera reformasi kran demokrasi dibuka lebar-lebar, sehingga bangsa Indonesia mengalami perubahan iklim dalam demokrasi menjadi demokrasi yang bebas, sehingga lahirlah begitu banyak partai dan banyak diantara mereka memanfaatkan konten agama untuk mendapatkan kursi kekuasaan, dengan menggunakan issu/ sentimen agama. Media sosial (Medsos) dijadikan salah satu media kampanyenya, yang akhirnya lahirlah generasi media sosial yang memiliki dampak positif dan negatif, adapun dampak negatifnya adalah menghalalkan segala cara untuk tercapainya kekuasaan tersebut, dengan menganggap kebenaran hanya golongannya dan yang lain adalah salah, dengan cara ujaran kebencian atau nyiyir, menebar berita bohong (hoak), mengkafir kafirkan kelompok lainnya (takfiri), sehingga agama tidak lagi menjadi payung yang bisa mengayomi umat tapi justru terkoyaknya toleransi di Indonesia.

Menurut Gus Sholeh, perlu untuk bisa membedakan mana itu “agama”, “paham keagamaan/ madzhab/ sekte” dan “kekuasaan agama/ negara tuhan”. Sementara negara kita Indonesia ini tidak hanya terdiri dari satu agama, didalamnya ada Islam, Kristen, Katolik, Khonghucu, Budha dan Hindu, yang mayoritas adalah agama Islam. Sehingga Islam kerapkali digunakan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, dengan menggunakan sentimen/ issu agama agar mendapatkan simpati suara dengan menerapkan perda-perda syariah tanpa memikirkan keberadaan dan ketersinggungan daripada umat agama lain.

Dari sinilah timbulnya pergesekan diakar rumput dan akhirnya timbulnya radikalime, dan apabila tidak segera ada pencegahan bisa berakhir menjadi terorisme, disebabkan karena kita belum bisa membedakaan ketiga hal tersebut diatas yaitu “Agama”, “Pemahaman Keagamaan” dan “Kekuasaan Agama” sehingga membuat kita inklusif, menganggap kelompoknya paling benar dan tegaknya ajaran agama harus direbutnya kekuasaan, padahal itu semua adalah cara-cara mereka yang haus akan kekuasaan dengan bertopengkan agama dijadikan sebagai kendaraannya.

Terakhir Gus Sholeh menjelaskan bahwa untuk terciptanya suasana keagamaan yang adem ayem dan tenteram solusinya adalah kita semua harus memiliki tindakan dan pemikiran keagamaan sebagai berikut; “Tawassuth” (moderat), “Tawazun” (seimbang), “I’tidal” (tegak lurus membela kebenaran yang bersifat universal), dan Tasamuh (toleransi).
(GSM)

Editor : mfs

Facebook Comments

PNM Mengadakan Diskusi Pancasila Untuk Generasi Milenial bersama Gus Sholeh

0

PatriotSatu.com – Jakarta, Sabtu (30/11/2019) Membangun Pola Pikir Generasi Milenial Dengan Nilai- nilai Ideologi Pancasila, menjadi tema dalam acara Memperingati Hari Pahlawan yang digagas oleh Persatuan Nusantara Maju (PNM), diskusi diadakan di Kedai Kopi “Banksaku”, Jln.Cideng Raya Jakarta Pusat.

Acara yang penuh makna bersama generasi milenial dihadiri oleh sejumlah Narasumber yang sering tampil dalam sejumlah acara, Diantaranya: S Indro Tjahyono (Tokoh Gerakan Mahasiswa Angkatan 1977-1978), Gus Sholeh Mz (Tokoh Muda NU), Indra Soegandi (Tokoh Gaek Nasionalis) dan Boedi Djarot (Tokoh Pergerakan) dan juga dihadiri sejumlah tokoh lainya yang dipandu oleh Hikmat Subiadinata sebagai Moderator.

Dalam penyampaiannya, Gus Sholeh sebagai Narasumber yang cukup handal dan menggebu-gebu untuk membangkitkan semangat juang generasi milenial agar memahani nilai-nilai luhur Empat Pilar Bangsa.

“Pancasila ini bukan negara agama, bukan negara sosialis, bukan negara liberalis, bukan kapitalis, bukan negara sekuler,” tetapi Pancasila menghimpun dan mengambil intisari dari kesemuanya itu dirumuskan oleh founding father kita dalam nilai-nilai luhur Pancasila. Bagaimana regenerasi milenial kita dalam membangun bangsa ini kedepan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ideologi Pancasila.

Indonesia dengan empat pilar bangsa utamanya Pancasila, merupakan warisan dan hadiah terbesar dari fonding father kita. Apa yang diwariskan oleh para pejuang terdahulu kepada kita yaitu empat pilar bangsa, oleh Gus Sholeh dalam pemaparannya disingkat dengan PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45) haruslah kita jaga, kita rawat dan kita pahami dengan baik dan benar, kemudian kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara utamanya bagi regenerasi bangsa atau istilah yang lagi ngetren saat ini generasi milenial kata Gus Sholeh.

Lanjutnya, generasi melenial yang hidup dalam jaman kecanggihan teknologi dan informatika, justru harus lebih dapat memahami empat pilar bangsa dengan baik dan benar agar kelak apabila menjadi pemimpin bangsa ini tidak kehilangan jatidiri bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Sebaliknya apabila generasi milenial, tidak paham empat pilar bangsa, nantinya regenerasi kita akan melahirkan generasi yang hedonis, generasi yang hidup nafsi-nafsi, sehingga hilang ruh Pancasila kita yaitu nilai-nilai sosial, gotong royong dan musyawarah mufakat demikian pungkas Gus Sholeh dalam pemaparannya.(GSM)

Editor : mf

Facebook Comments